Bergerak Bijak, Melaju Bersama | Shifting Masyarakat Gunakan Transportasi Massal Dukung Ketahanan Energi Nasional
Jakarta – Pilihan masyarakat yang beralih menggunakan transportasi massal (shifting) dalam mobilitas sehari-hari tidak hanya mengurangi kemacetan di jalan raya dan menghemat biaya perjalanan, tetapi ikut berkontribusi menekan emisi karbon, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup, Selain itu, kondisi nasional dan global dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pengelolaan energi yang lebih bijak khususnya di sektor transportasi merupakan salah satu upaya mendukung ketahanan energi nasional dan menghadapi perubahan iklim. Hal ini dikemukakan oleh Wendy Aritenang, praktisi di bidang transportasi berkelanjutan sekaligus Senior Expert on Transport GHG Emission & Transport Climate Change Issues, pada tayangan Podcast Hubtalks bertema Bergerak Bijak, Melaju Bersama."Di kondisi global saat ini, begitu ada masalah di Selat Hormuz kita jadi tahu ternyata sekian persen dari kebutuhan minyak kita itu hasil impor. Nah, kita melihat sekarang ternyata kita masih sangat tergantung kepada energi fosil," ujar Wendy saat menjadi narasumber Podcast Hubtalk, Selasa (26/5).Menurut Wendy, sektor transportasi memiliki peran penting dalam upaya mengurangi ketergantungan tersebut. Sebab, transportasi merupakan peringkat kedua sebagai pengguna energi terbesar di Indonesia, terutama pada transportasi darat. "Kalau kita lihat di transportasi, ternyata sebanyak 87% penggunaan energi ada di transportasi darat kemudian dari transportasi udara, laut, kereta, " kata Wendy.Besarnya peran transportasi darat juga tercermin dari kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca nasional. Pada 2024, sektor transportasi menghasilkan sekitar 157 juta ton CO₂, dengan sekitar 137 juta ton atau 87% di antaranya berasal dari transportasi darat. Sebaliknya, sektor perkeretaapian hanya menyumbang sekitar 1% emisi atau 0,95 juta ton CO₂. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya menekan emisi sektor transportasi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional perlu difokuskan pada peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke moda yang lebih efisien dan rendah emisi, terutama melalui peningkatan penggunaan transportasi massal."Kalau kita bisa menghemat penggunaan energi di transportasi darat, maka ketergantungan kita kepada energi fosil juga akan makin kurang. Bagaimana caranya kita menghemat energi di transportasi darat? Utamanya beralih menggunakan transportasi massal seperti bus, kereta, dan berbagai moda lainnya," lanjut Wendy.Wendy menegaskan, upaya mengurangi emisi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Perubahan perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasi juga memiliki peran yang tidak kalah penting."Kalau di tempat-tempat yang ada transportasi umumnya, gunakanlah transportasi umum. Menghemat energi artinya menghemat ketergantungan kita terhadap impor, menghemat APBN, menghemat devisa, dan lain-lain. Jadi kontribusi kita di situ sebetulnya banyak sekali manfaatnya," ucap Wendy.Selain mendorong penggunaan transportasi massal, pemerintah juga terus mengembangkan berbagai strategi untuk menekan emisi sektor transportasi. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui elektrifikasi transportasi, penggunaan bahan bakar alternatif, serta pengembangan jaringan transportasi publik yang lebih luas dan terintegrasi.Meski demikian, Wendy mengingatkan bahwa kendaraan listrik bukanlah satu-satunya solusi. "Kendaraan listrik oke, tetapi jangan menggunakan listrik sebagai alasan untuk membeli kendaraan pribadi sebanyak mungkin. Pendekatannya tetap harus transportasi massal," ujarnya.Selain itu, keberhasilan menciptakan sistem transportasi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur maupun teknologi, tetapi juga pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap mobilitas sehari-hari.Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan energi yang terus meningkat, pilihan transportasi yang dilakukan setiap hari ternyata memiliki arti yang lebih besar dari sekadar berpindah tempat. Langkah sederhana beralih memilih angkutan massal seperti bus, MRT, LRT, atau kereta api dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi jejak karbon untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. (AH/HG/ME/FM)
-
Biro Komunikasi dan Informasi Publik