Jakarta – Transportasi umum kini bukan lagi sekadar alternatif, tetapi sudah menjadi pilihan utama bagi banyak masyarakat. Selain lebih efisien, sistem yang semakin terintegrasi juga memungkinkan perjalanan menjadi lebih praktis dan hemat biaya. Meski begitu, masih banyak yang belum tahu cara memaksimalkan layanan ini.

Melalui pengalaman langsung di lapangan, konten kreator transportasi publik, Bima Agustia, membagikan sejumlah trik sederhana yang bisa membuat perjalanan dengan transportasi umum jadi lebih efisien, baik dari sisi waktu maupun biaya.

Salah satu yang paling terasa adalah penerapan tarif integrasi di Bandung melalui layanan Metro Jabar Trans (MJT). Sistem ini memungkinkan penumpang berpindah koridor tanpa biaya tambahan dalam durasi tertentu. Selain itu, penumpang tidak perlu membayar dua kali untuk perjalanan lanjutan.

“Jadi caranya teman-teman bisa naik koridor 6 dari Terminal Leuwipanjang sampai halte PT Inti. Dari halte PT Inti kalian ganti ke bus Metro Jabar Trans koridor 5. Tinggal tap dan gak akan kepotong lagi saldonya. Nah, udah itu jos lewat tol Padaleunyi langsung ke Cileunyi,” jelas Bima dalam podcast HubTalks pada Selasa (21/4).

Tak hanya di Bandung, Bima juga menyoroti kemudahan integrasi di wilayah Jabodetabek yang semakin luas dan menjangkau banyak daerah.

“Sekarang ini Transjakarta memang ekspansi rutenya sudah besar-besaran banget ya. Sebelumnya ke P11 yang ke Bogor, Citeureup, Sentul. Nah, sekarang ada lagi yang B51 dari Cawang ke Cikarang. Cikarang itu benar-benar wah banget gitu. Hampir semua daerah bisa dijangkau dengan transjakarta,” ujar Bima.

Bima menilai titik ini sebagai salah satu transit yang paling praktis. Di lokasi ini, pengguna dapat berpindah dari LRT Jabodebek ke KRL Commuter Line maupun TransJakarta tanpa harus berjalan jauh.

“Saya lebih sering naik LRT, seperti sambung transit-to-point. Biasanya dari Cibubur ke stasiun Cikoko. Dari situ turun dan bisa lanjut mau naik Transjakarta apa naik KRL. Saya milih naik KRL,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar penumpang tidak keliru memilih stasiun. Meski berdekatan, Stasiun Cikoko dan Stasiun Cawang memiliki fungsi yang berbeda dalam sistem integrasi tersebut.

“Stasiun LRT Cikoko itu terintegrasi dengan halte Transjakarta Cikoko, Stasiun Cawang, dan juga stasiun KRL Cawang tentunya. Jangan sampai ketuker ya. Kalau mau ke KRL turun di Stasiun Cikoko,” tambahnya.

Selain itu, peningkatan layanan juga dirasakan dari frekuensi perjalanan KRL yang semakin rapat, khususnya di lintas padat seperti Bogor line. Hal ini membuat waktu tunggu lebih singkat dan perjalanan menjadi lebih fleksibel.

“Buat teman-teman yang saat ini belum yakin buat naik transportasi umum, cobain deh. Bahkan sekarang sudah ada KRL yang jadwalnya lebih rapat, apalagi Bogor line. Itu benar-benar ngebantu banget. Akses mobilisasinya lebih enak. Integrasinya juga lebih tersambung. Apalagi di Jakarta ini, integrasinya benar-benar jelas,” kata Bima.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memperkuat integrasi transportasi untuk mendukung kemudahan mobilitas masyarakat. Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, M. Risal Wasal menekankan bahwa integrasi tidak hanya mencakup konektivitas fisik, tetapi juga sistem secara menyeluruh. Integrasi layanan transportasi meliputi integrasi fisik, tarif, operasional, informasi, hingga kebijakan, yang semuanya dirancang untuk menciptakan layanan yang seamless bagi pengguna.

“Begitu kita bicara integrasi pertama harus pastikan kapasitas dan OTP (On Time Performance), fasilitas yang dibangun sesuai gak dengan kebutuhan orang-orang. Kedua, kendaaran datang dan integrasinya berkelanjutannya, waktunya pas jangan sampai penumpang masih menunggu lama. Jadi OTP inter dan antarmodal pun berlaku. Ketiga, dampaknya harus ada untuk lingkungan. Bagaimana environmental impact menjadi salah satu target kita di dalam melakukan integrasi yang seamless di dalam pelayanan transportasi,” ucap Risal dalam podcast HubTalks episode 14.

Ia juga mengatakan bahwa integrasi mencakup berbagai aspek, mulai dari kelembagaan, jaringan transportasi, sistem pembayaran, hingga informasi dan keberlanjutan.

“Konsep kami adalah keterhubungan, keterpaduan, dan sustain. Keterpaduan ini yang kita sebut dengan integrasi. Integrasi bicara soal keterpaduan secara sistem kelembagaan, pembayaran, informasi, dan lain-lain,” ujar Risal.

Risal juga menekankan betapa besarnya dampak kolaborasi integrasi di Jakarta yang telah berhasil mengubah pola pikir masyarakat.

"Jakarta dengan kolaborasi pemerintah pusat sudah mampu merubah, men-shifting masyarakat pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum lebih dari 2,5 juta per hari. Bayangkan kalau 2,5 juta itu per orang empat kali ganti angkutan umum, berarti ada 10 juta perjalanan. Ada LRT Jakarta, ada MRT Jakarta, ada LRT Jabb, ada KCI-nya dan ada Transjakarta dengan pasukan bawahnya dengan Jaklingkonya itu sudah bisa men-safting orang lebih 2,5 juta,” ucap Risal dalam podcast HubTalks episode 12.

Pengamat Transportasi dan Perkotaan, Yayat Supriatna, menilai integrasi ini juga berdampak langsung pada efisiensi biaya yang dikeluarkan masyarakat.

"Integrasi itu harus meyakinkan kepada masyarakat bahwa naik angkutan umum atau layanan terintegrasi tidak membuat Anda susah. Mengapa kata integrasi itu penting karena di dalamnya ada kata efisien. Secara ekonomi dalam konteks tidak terjadinya integrasi orang harus mengeluarkan 30% atau 40%, tapi dengan integrasi bisa ditekan mencapai 10% sebagai cost yang lebih proporsional menurut Bank Dunia,” ujar Yayat dalam podcast HubTalks episode 14.

Transportasi umum kini telah berkembang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. Dengan sistem yang semakin terintegrasi dan fasilitas yang terus ditingkatkan, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk bepergian secara efisien.