
Jakarta - Mudik Lebaran selalu identik dengan kemacetan panjang dan tingginya risiko kecelakaan, terutama bagi pemudik sepeda motor. Namun, Angkutan Lebaran 2026 menghadirkan kembali program Motor Gratis (Motis) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Program ini memungkinkan masyarakat mengirim sepeda motor ke kampung halaman sehingga perjalanan mudik menjadi lebih aman dan nyaman.
Bukan sekadar gratis, layanan ini menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda, bahkan bisa dibilang “out of the box”. Pengalaman itu dirasakan langsung oleh Bima Agustia, seorang konten kreator transportasi publik. Dalam obrolannya di podcast HubTalks, Selasa (21/4), ia bercerita jika sebelumnya lebih sering menggunakan sepeda motor, tahun ini ia mulai beralih ke kereta api.
“Tahun ini saya mudik ke Sukabumi naik kereta api Pangrango. Tahun sebelumnya sering naik motor. Tapi karena sekarang transportasi ke Sukabumi sudah makin baik, makin bagus juga infrastrukturnya, jadi lebih milih naik kereta. Saya merasa perjalanan dengan Motis itu ternyata out of the box. Dari segi perjalanannya feels-nya benar-benar beda,” ujar Bima.
Perbedaan pengalaman perjalanan tersebut terasa cukup signifikan, terutama dari sisi waktu tempuh dan kenyamanan. Perjalanan dari Gunung Putri menuju Sukabumi yang biasanya memakan waktu 2 hingga 2,5 jam dengan motor, bisa dipangkas menjadi kurang dari 1,5 jam dengan kereta. Selain lebih cepat, faktor kenyamanan juga menjadi pertimbangan utama.
“Kalau naik motor itu dari rumah saya yang di Gunung Putri itu bisa 2 sampai 2,5 jam, itu sudah sama istirahat. Kalau naik kereta dari Bogor ke Sukabumi itu cuma kurang dari 1,5 jam,” jelas Bima.
Kemudahan ini juga didukung oleh kesiapan pemerintah dalam menyediakan layanan mudik yang lebih terintegrasi. Direktur Lalu Lintas Jalan, Rudi Irawan mengungkap Kemenhub telah menyiapkan 401 unit bus dengan total 15.834 kuota bagi peserta mudik dan arus balik 2026. Program ini melayani perjalanan menuju 34 kota tujuan mudik serta 12 kota arus balik yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur guna memberikan kemudahan aksesibilitas bagi masyarakat yang akan mudik.
“Mudik gratis ini merupakan upaya pemerintah hadir memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di tahun ini ada kurang lebih 3.283 bus setara dengan 151.000 penumpang, itu kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan juga ada swasta. Kalau di Kemenhub, khususnya di darat, ada kurang lebih 401 bus setara dengan 15.000 penumpang dan memang di tahun depan kita coba untuk kuotanya dinaikkan.”Rudi dalam Podcast HubTalk pada Senin (9/3).
Bagi Bima yang seorang pemudik, Motis bukan sekadar alternatif, tapi solusi yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan pemudik dalam berkendara. Hal ini sejalan dengan data Korlantas Polri yang mencatat angka kecelakaan dan fatalitas pada Angkutan Lebaran 2026 sebanyak 3.517, turun sebesar 6,31% dibandingkan tahun 2025. Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia turun signifikan sebesar 31,19%, dari 436 jiwa menjadi 300 jiwa.
“Berdasarkan data dari Korlantas terjadi penurunan baik itu tingkat kejadian dan fatalitas kecelakaan khususnya yang meninggal dunia itu turun 31,19%. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai aware terhadap faktor keselamatan sehingga strategi-strategi yang sudah disiapkan oleh pemerintah tetap mengutamakan keselamatan dan keamanan masyarakat,” jelas Rudi.
Selain menawarkan keamanan dan kenyamanan, Motis juga menghadirkan pengalaman perjalanan yang unik dari sisi strategi rute. Bima menjelaskan, saat arus mudik umumnya bergerak dari barat ke timur, ia justru mencoba perjalanan sebaliknya yakni melawan arus. Hasilnya, perjalanan terasa lebih lancar. Ia bahkan mencoba dua rute sekaligus: dari Bekasi ke Cirebon melalui lintas tengah, dan dari Bekasi ke Bandung melalui lintas selatan. Pengalaman di lintas selatan terasa lebih efisien karena kereta tidak berhenti di banyak stasiun besar seperti Cikampek atau Purwakarta, melainkan langsung menuju tujuan akhir.
Dari sisi biaya, Motis juga tergolong sangat terjangkau. Untuk rute Jakarta–Cirebon, tarifnya hanya sekitar Rp37.000, sementara Jakarta–Bandung sekitar Rp54.000. Dengan harga tersebut, pemudik sudah mendapatkan perjalanan yang relatif cepat, aman, dan nyaman.
“Nah, kalau kita ikut war, itu gratis. Bedanya kalau saya ini naik Motis yang sistemnya contraflow. Misal, orang yang dari arah timur ke arah barat itu kan rata-rata arus balik. Kemarin saya naik contraflow ke arah arus berangkat gitu. Jadi memang melawan arus,” jelas Bima.
Ada strategi khusus untuk mendapatkan tiket Motis, terutama bagi yang tidak sempat memesan jauh hari. Bima membagikan tips dengan manfaatkan pembelian dadakan melalui aplikasi Access by KAI.
“Untuk dapatkan tiket ini mudah banget. Cukup buka aplikasi Akses by KAI tujuannya Pasar Senin atau Bekasi, bisa juga ke Cirebon Perjakan atau Bandung. Nanti ada kereta Motis tengah, Motis utara atau yang ke Bandung, Motis selatan. Sebagai trik, pesan tiketnya 3 jam sebelum keberangkatan, sebab untuk pembelian dadakan itu minimal 3 jam.”
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) telah menyediakan kuota 11.900 unit sepeda motor dan 28.196 penumpang dalam program Motis 2026. Layanan Motis juga diperluas menjadi tiga lintasan utama, yaitu Lintas Utara, Lintas Tengah, dan Lintas Selatan.
Lintas Utara mencakup rute Jakarta Gudang (motor) – Pasar Senen (penumpang) – Bekasi (penumpang) - Cirebon Prujakan – Pekalongan – Semarang Tawang – Cepu.
Lintas Tengah meliputi rute Jakarta Gudang (motor) – Pasar Senen (penumpang) – Bekasi (penumpang) - Cirebon Prujakan – Purwokerto – Kroya – Kutoarjo – Lempuyangan.
Lintas Selatan meliputi rute Jakarta Gudang (motor) – Pasar Senen (penumpang) – Bekasi (penumpang) – Kiaracondong – Kroya – Kebumen – Lempuyangan – Purwosari – Madiun.
Bagi masyarakat, peningkatan ini terasa signifikan. Bima sendiri mengaku puas dengan penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini. “Sekarang opsinya makin banyak, relasinya juga diperpanjang. Jadi kita bisa mudik tanpa harus capek berkendara,” terangnya dengan riang.

