Jakarta - Transportasi publik di Indonesia perlahan menunjukkan perubahan yang semakin terasa. Bukan hanya dari sisi infrastruktur, tapi juga pengalaman pengguna yang kini lebih nyaman, terintegrasi, dan efisien. Perubahan ini bahkan mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk para pengguna aktif sekaligus pengamat transportasi.
Di balik kenyamanan ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong layanan transportasi publik yang terjangkau di wilayah perkotaan melalui berbagai skema subsidi agar tarifnya tetap memadai bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah hadir melalui skema PSO (Public Service Obligation) untuk sektor perkeretaapian dan BTS (Buy The Service) untuk angkutan jalan guna memastikan keterjangkauan tarif tersebut. Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Arif Anwar, menjelaskan bahwa tujuan utama pemberian PSO adalah agar tarif transportasi publik tetap terjangkau oleh semua golongan masyarakat.
“Tujuan utamanya kenapa PSO itu diberikan adalah untuk memberikan tarif yang bisa terjangkau oleh semua golongan masyarakat,” ujar Arif dalam podcast HubTalks episode 13.
Sebagai gambaran nyata, tarif KRL yang normalnya sebesar Rp7.000 kini dapat dinikmati masyarakat hanya seharga Rp3.000 berkat adanya subsidi PSO.
Sementara itu, skema BTS telah diimplementasikan di 14 kota, termasuk Bandung, Surabaya, hingga Medan, di mana pemerintah membeli layanan dari operator dengan standar pelayanan yang ketat. Direktur Angkutan Jalan, Muiz Tohir menekankan bahwa melalui skema ini, pemerintah memastikan kenyamanan penumpang melalui aturan headway dan fasilitas yang terjaga.
"Pemerintah membeli layanan kepada operator dengan satu service level agreement yang disepakati. Jadi ada standarnya, diatur terkait headway (waktu tunggu) dan fasilitas seperti AC,” ucap Muiz dalam podcast HubTalk episode 13.
Perubahan ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk para pengguna aktif. Salah satunya adalah Bima Agustia, konten kreator yang fokus membahas transportasi publik. Perjalanannya di dunia konten justru dimulai dari hal sederhana untuk mengisi waktu luang saat pandemi.
“Waktu Covid-19 semua transportasi umum benar-benar ditutup, dibatasi, gak ada akses sama sekali. Saya “iseng” coba bikin konten motor, ternyata hasilnya kurang maksimal. Dari situ saya mikir lagi untuk buat konten soal kereta yang lewat dekat rumah, upload ke TikTok. Alhamdulillah jumlah penontonnya mulai meningkat,” ungkap Bima dalam podcast HubTalks, Selasa (21/4).
Dari situ, kontennya berkembang. Ia mulai mengeksplorasi perjalanan kereta dari berbagai rute, bahkan membuat ulasan stasiun dari sisi sejarah hingga fasilitas. Respons penonton pun positif karena kontennya dianggap informatif sekaligus membuka wawasan baru.
“Rata-rata respon penonton banyak yang bertanya terkait rutenya. Ada juga konten saya tentang review stasiun. Jadi setiap stasiun itu saya review secara teknis, sejarah, fasilitas, dan macam-macam. Pertama kali yang saya review itu stasiun Kalideres di jalur brown line. Jadi nambah informasi dan wawasan juga buat penonton,” ucap Bima.
Seiring waktu, Bima tidak hanya membahas kereta, tetapi juga melihat langsung perkembangan transportasi publik secara lebih luas, termasuk perubahan yang terjadi di terminal dan layanan bus. Salah satu yang paling terasa adalah transformasi Terminal Leuwipanjang di Bandung. Jika sebelumnya identik dengan kesan kumuh dan kurang terawat, kini berubah menjadi lebih modern dan terintegrasi.
“Dulu waktu saya ke terminal Leuwipanjang kondsinya, mohon maaf, kumuh. Bangunannya seperti kurang terawat. Tapi semenjak direvitalisasi, ditambah ada armada Metro Jabar Trans dari Pemprov Jabar, kesannya berubah dan ada nilai plus yaitu konektivitas ke berbagai daerah,” ucap Bima.
Kehadiran Metro Jabar Trans juga membawa sistem tarif integrasi yang memudahkan pengguna. Dengan satu kali tap kartu, penumpang bisa berpindah koridor tanpa biaya tambahan selama dua jam. Sistem ini dinilai lebih efisien, terutama untuk perjalanan dengan rute lanjutan.
Tak hanya di Bandung, pengembangan juga terjadi di wilayah Jabodetabek. Layanan TransJakarta kini menjangkau lebih luas hingga ke kota penyangga seperti Bogor, Citeureup, hingga Cikarang. Perluasan ini membuka akses mobilitas yang sebelumnya sulit dijangkau dengan transportasi umum.
Selain itu, integrasi antarmoda juga semakin terlihat jelas. Salah satu contohnya ada di kawasan Cikoko–Cawang, di mana LRT, KRL, dan TransJakarta saling terhubung dalam satu titik. Penumpang kini tidak perlu lagi berpindah jauh untuk berganti moda transportasi.
Dari sisi teknologi, perkembangan transportasi publik juga tidak kalah menarik. LRT Jabodebek menjadi salah satu contoh kemajuan sistem perkeretaapian di Indonesia. Kereta ini beroperasi secara otomatis tanpa masinis, dikendalikan langsung dari pusat kendali.
“Teknologi yang paling berkesan itu, ada yang namanya LRT Jabodebek. Itu kayaknya sistem perkeretaapian di Indonesia yang paling canggih sih. Karena sistem operasinya gak ada masinis. otomatis gitu dari pengendali pusat. Jadi itu kayak berasa di luar negeri,” ucap Bima.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga memberikan alternatif nyata bagi masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi. Terlebih di tengah kondisi seperti kenaikan harga bahan bakar dan isu polusi udara, transportasi publik menjadi solusi yang semakin relevan.
