Mengubah Kebiasaan, Membangun Mobilitas
Jakarta – Di tengah berbagai upaya pemerintah membangun transportasi publik yang semakin modern, nyatanya masih banyak masyarakat yang memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas sehari-hari.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mengembangkan berbagai layanan transportasi massal, mulai dari MRT, LRT, KRL, BRT, hingga layanan angkutan perkotaan lainnya. Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) Kementerian Perhubungan, Reza Hertantyo mengatakan ketersediaan infrastruktur saja belum cukup untuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik.
“Dari sisi ekonomi, meski sudah disubsidi pemerintah, sebagian masyarakat masih merasa kendaraan pribadi lebih fleksibel dan menguntungkan. Daya tarik transportasi publik belum cukup kuat untuk menggeser kebiasaan masyarakat sepenuhnya,” ujar Reza dalam Podcast HubTalks episode 21, Selasa (26/5).
Menurut Reza, perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan terbesar dalam mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan.
"Perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama. Infrastruktur canggih tidak akan memberikan dampak optimal tanpa perubahan budaya dari kendaraan pribadi ke transportasi publik," ucap Reza.
Ia juga menilai, masyarakat akan lebih mudah beralih jika transportasi publik mampu memberikan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan mudah diakses.
"Masyarakat pasti akan mau berubah jika transportasi publik aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan mudah diakses," lanjut Reza.
Oleh sebab itu, selain membangun infrastruktur fisik, pemerintah juga terus mendorong integrasi antarmoda agar perjalanan masyarakat menjadi lebih praktis. Integrasi tersebut tidak hanya mencakup konektivitas antar moda transportasi, tetapi juga kemudahan dalam mengakses layanan.
Salah satu konsep yang terus dikembangkan adalah penerapan sistem pembayaran dan layanan yang terintegrasi melalui satu kartu maupun satu aplikasi untuk berbagai moda transportasi. Dengan sistem tersebut, masyarakat dapat berpindah moda dengan lebih mudah tanpa harus menghadapi proses yang rumit saat melakukan perjalanan.
Meski demikian, Reza menegaskan bahwa keberhasilan transportasi tidak hanya bergantung pada pembangunan yang dilakukan pemerintah. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia agar sistem yang dibangun dapat berfungsi secara optimal.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan infrastruktur yang terintegrasi, tarif yang terjangkau, serta layanan yang aman dan nyaman. Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu berkontribusi melalui perubahan kebiasaan dan kesediaan untuk menggunakan transportasi publik sebagai bagian dari mobilitas sehari-hari.
“Transformasi ini butuh kerja sama harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah membangun sistem dan infrastrukturnya, namun tanpa partisipasi aktif masyarakat, semua itu tidak akan optimal. Jadi perubahan besar itu dimulai dari langkah bersama,” tutup Reza. (FM/ME/HG/LOL)
