Transportasi Hijau Jadi Kunci Ketahanan Energi

Jakarta – Ketika harga minyak dunia bergejolak akibat ketidakpastian geopolitik global, dampaknya terasa bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi untuk beraktivitas sehari-hari. Kenaikan harga bahan bakar berpengaruh terhadap biaya perjalanan, distribusi barang, hingga pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan energi nasional.

Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) Kementerian Perhubungan, Reza Hertantyo menilai transformasi menuju transportasi hijau menjadi semakin penting di tengah tantangan lingkungan dan energi yang dihadapi saat ini.

“Kondisi cuaca sekarang sudah tidak menentu, bulan yang seharusnya kemarau masih hujan lebat. Selain itu, kondisi geopolitik dunia membuat harga minyak dunia semakin tinggi, dan Indonesia terkena dampaknya. Dengan perkembangan transportasi yang semakin masif, transportasi menyumbang gas rumah kaca dan polusi udara yang parah di kota-kota besar. Itulah yang membuat transportasi hijau sangat penting,” ujar Reza dalam Podcast HubTalks episode 21, Selasa (26/5).

Negara Indonesia sangat bergantung pada transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta konektivitas antarwilayah. Namun, di balik peran strategis tersebut, sektor transportasi juga menjadi salah satu konsumen energi terbesar yang masih didominasi penggunaan bahan bakar fosil.

Menurut Reza, sektor transportasi saat ini merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia. Data Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan 87% emisi gas rumah kaca sektor transportasi berasal dari transportasi darat, sementara transportasi laut menyumbang 8%, udara 4%, dan perkeretaapian 1%.

“Kalau kita lihat data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024, sektor transportasi adalah salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca. Kontribusi tertinggi berasal dari transportasi darat, diikuti laut, udara, dan terakhir kereta api. Di sektor darat, penyumbang terbesar adalah sepeda motor di wilayah perkotaan,” jelas Reza.

Besarnya kontribusi emisi tersebut membuat sektor transportasi menjadi salah satu fokus penting dalam agenda dekarbonisasi nasional. Upaya ini sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat, sekaligus memperkuat ketahanan energi melalui pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Perubahan transportasi rendah karbon juga dinilai dapat membantu menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien. Ketika konsumsi energi dapat ditekan dan penggunaan energi alternatif semakin luas, biaya operasional transportasi berpotensi menjadi lebih terkendali sehingga dampak gejolak harga minyak dunia dapat diminimalkan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Perhubungan terus mendorong berbagai langkah strategis yang berfokus pada efisiensi energi dan pemanfaatan bahan bakar alternatif. Kemenhub bersama kementerian, lembaga, dan mitra pembangunan tengah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi sebagai pedoman pelaksanaan berbagai aksi mitigasi perubahan iklim di sektor transportasi.

Di sektor darat, yang menjadi penyumbang emisi terbesar, pemerintah terus mendorong peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum massal melalui pengembangan BRT, MRT, LRT, KRL, serta program Buy The Service (BTS). Penggunaan kendaraan listrik juga menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi.

Sementara itu, sektor udara diarahkan pada modernisasi pesawat dan peningkatan efisiensi operasional penerbangan, termasuk pengembangan serta pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Adapun pada sektor laut, langkah yang ditempuh meliputi modernisasi kapal, peningkatan efisiensi pelayaran, dan pemanfaatan biofuel maupun energi alternatif lainnya.

Reza menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dapat berjalan hanya melalui kebijakan pemerintah semata. Perubahan pola mobilitas masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mewujudkan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

“Perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama. Infrastruktur canggih tidak akan memberikan dampak optimal tanpa perubahan budaya dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Masyarakat pasti akan mau berubah jika transportasi publik aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan mudah diakses,” ucap Reza.

Transportasi hijau bukan sekadar upaya mengurangi polusi atau memenuhi target penurunan emisi. Transformasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, serta memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.

“Harapan kami adalah terwujudnya konektivitas nasional yang aman, efisien, terintegrasi, dan rendah karbon untuk mendukung visi Indonesia Emas. Kemenhub menargetkan sektor transportasi dapat semakin berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui penyelenggraan transportasi yang inklusif, merata, dan ramah lingkungan. Sasarannya adalah infrastruktur yang handal, manajemen yang cerdas, serta peningkatan keselamatan dan kualitas layanan,” pungkas Reza. (FM/ME/HG/LOL)