Jakarta – Keputusan masyarakat dalam memilih moda transportasi sebagai sarana mobilisasi aktivitas sehari-hari sering dipengaruhi oleh pada pertimbangan waktu tempuh, kenyamanan, atau biaya perjalanan. Padahal, pemilihan moda transportasi secara bijak di setiap perjalanan bisa menjadi upaya masyarakat dalam mengurangi jejak karbon yang berdampak pada lingkungan.

Untuk mengukur dampak emisi yang dihasilkan terhadap pilihan transportasi masyarakat yang digunakan, aplikasi Jejaku.id hadir sebagai sarana edukasi sekaligus panduan bagi masyarakat untuk memahami mobilitas secara lebih bijak.

Senior Expert on Transport GHG Emission & Transport Climate Change Issues, Wendy Aritenang, menjelaskan bahwa aplikasi yang dikembangkan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bersama Kementerian Perhubungan tersebut berawal dari kebutuhan akan data emisi transportasi yang lebih relevan dengan kondisi Indonesia.

"Kalau kita lihat di internet ada (aplikasi) karbon kalkulator lain, tapi bukan Indonesia yang kembangkan. Datanya kebanyakan dari Eropa atau Amerika jadi kurang cocok dengan data kita, bukan spesifik transportasi Indonesia. Kalau Jejaku spesifik untuk moda di Indonesia jadi lebih real," ujar Wendy pada Podcast HubTalks episode 22, Selasa (26/5).

Jejaku merupakan singkatan dari "Jejak Karbonku". Aplikasi ini memungkinkan pengguna menghitung estimasi emisi karbon berdasarkan moda transportasi yang digunakan dalam suatu perjalanan. Melalui fitur kalkulator karbon transportasi, pengguna dapat membandingkan dampak lingkungan dari berbagai pilihan moda. Misalnya ketika melakukan perjalanan dengan bus listrik, kendaraan pribadi, maupun sepeda motor.

Wendy mencontohkan, seseorang dapat memasukkan titik asal dan tujuan perjalanan ke dalam aplikasi, kemudian melihat besaran emisi yang dihasilkan dari masing-masing moda transportasi.

"Kalau saya naik Transjakarta, saya klik dari Ratu Plaza sampai Monas, saya dapat emisinya. Kalau saya naik mobil pribadi, saya klik mobil pribadi saya dapat angka sekian. Naik motor dapat angka sekian," jelasnya.

Menurut Wendy, selama ini kampanye penggunaan transportasi umum sering kali hanya menekankan bahwa moda tersebut lebih ramah lingkungan. Namun masyarakat jarang memperoleh gambaran konkret mengenai seberapa besar perbedaannya dibanding kendaraan pribadi.

"Kalau sekarang kan kita bikin kampanye, gunakan saja transportasi massal lebih ramah lingkungan. Tapi seberapa ramahnya kita enggak tahu," ucap Wendy.

Kehadiran data yang lebih terukur dinilai penting, terutama bagi generasi muda yang semakin terbiasa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang jelas dan terukur.

"Kalau anak-anak sekarang enggak bisa kalau cuma dibilang naik ini lebih ramah. Mereka tanya, seberapa ramah? Kalau kita bisa kasih angka, mereka bilang lebih ramahnya sebesar sekian. Kita bisa lebih meyakinkan," kata Wendy.

Lebih dari sekadar alat hitung emisi, Jejaku juga dapat membantu masyarakat memahami bahwa pilihan transportasi sehari-hari memiliki dampak yang lebih luas. Ketika lebih banyak orang beralih ke transportasi umum, konsumsi energi dapat ditekan sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ikut berkurang.

Wendy mengingatkan bahwa perubahan menuju transportasi yang lebih berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kesadaran untuk memilih moda yang lebih efisien dan lebih rendah emisi juga merupakan bentuk kontribusi nyata.

"Kalau mau ke tempat-tempat yang ada transportasi umum, gunakanlah transportasi umum. Memang penuh, namun selain untuk diri kita maka kita sudah membantu menghemat energi," pesannya.

Menurutnya, penggunaan transportasi umum tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga bagi pengguna itu sendiri. Waktu perjalanan menjadi lebih mudah diprediksi, biaya transportasi lebih hemat, serta kualitas hidup dapat meningkat karena waktu yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk keluarga maupun aktivitas lainnya.

Jejaku.id menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat mengambil keputusan perjalanan secara lebih sadar. Dengan mengetahui jejak karbon yang dihasilkan dari setiap perjalanan, masyarakat diharapkan tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memahami dampak dari pilihan mobilitas yang mereka ambil.

Pada akhirnya, mobilitas yang bijak bukan semata soal sampai lebih cepat ke tujuan. Lebih dari itu, mobilitas yang bijak adalah kemampuan untuk memilih perjalanan yang efisien, hemat energi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun generasi mendatang. (AH/HG/ME/FM)