Di tengah banjir yang memutus akses Provinsi Aceh – Sumatera Utara, UPPKB Seumadam berubah dari tempat penimbangan kendaraan menjadi tempat puluhan warga bertahan hidup.
Mulanya normal mendadak kacau
22 November 2025, hujan mulai turun dengan derasnya, membasahi wilayah Aceh dan sekitarnya. Kami pada saat itu bersyukur. “Alhamdulillah, tidur nyenyak nih nanti turun piket,” ujarku saat itu kepada rekan kerja dengan riangnya.
Kendaraan angkutan barang masih datang dan pergi. Operasional penimbangan berjalan normal seperti hari-hari sebelumnya. Namun, perasaan senang kami mulai berubah, karena setelah empat hari berlalu, hujan belum juga mereda.
Memasuki 26 November, kami mendengar kabar banjir mulai datang dari sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Di Takengon, Lhokseumawe, Langsa. Sementara, keadaan di UPPKB sendiri pukul 02.09 WIB mulai kacau, listrik tiba-tiba padam, hujan turun disertai angin kencang, air di parit sekitar UPPKB Seumadam terus meninggi, genset dinyalakan.
“Tolong yang rumah nya kebanjiran di catat ya, para Danru tetap memantau keadaan UPPKB kita, semua peralatan dalam keadaan mati. Tolong timbangan jangan sampai kosong, di atur bergantian soalnya timbangan tanggung jawab kita Bersama,” ujar Kepala Timbangan.
Siang harinya, bahan bakar genset kami menipis, banjir terjadi di sejumlah titik di Jalanan Desa Karangjadi, dan diperparah dengan longsor yang terjadi di Bukit Seumadam. Lalu lintas depan UPPKB yang sebelumnya memang sudah sepi kini mendadak kosong. Di saat yang sama, sejumlah petugas mulai mendapati kabar bahwa rumah mereka juga terdampak banjir.
“Aku balik dulu ya, air sudah masuk kerumahku,” ujar salah satu rekan kerja.
Para petugas kemudian mengatur giliran untuk memastikan lokasi dan peralatan tetap dalam pengawasan, meskipun sebagian dari mereka sendiri mendapat kabar buruk yang sama.
Ketika UPPKB Menjadi Tempat Bertahan
Pada 27 November, kondisi jalan di sekitar Kecamatan Besitang dan Kampung Seumadam semakin sulit dilalui. Hujan, banjir, dan longsor membuat kendaraan sulit melintas.
“Assalamualaikum teman teman yg berada di seumadam, tolong info hari ini situasi dan kondisi timbangan kita serta siapa saja anggota yg tinggal di seumadam,” tanya Kepala Timbangan.
Tapi tidak ada satupun yang dapat menjawab beliau, dikarenakan jaringan komunikasi di wilayah Kampung Seumadam terputus. Pada saat itu kami juga sedang bersusah payah mencari bahan bakar genset dikarenakan listrik yang belum menyala.
Pada hari yang sama, warga-warga yang tidak dapat melanjutkan perjalanan serta warga kampung yang rumahnya kebanjiran mulai berdatangan dengan membawa harta benda yang masih bisa diselamatkan. Mereka datang bukan untuk sekadar singgah, tapi membutuhkan tempat untuk bertahan.
UPPKB Adalah rumah kami. Ya, kata-kata itulah yang menggambarkan kondisi UPPKB sekarang. Gudang UPPKB yang biasanya berfungsi untuk penyimpanan, kini beralih fungsi menjadi tempat bernaung. Kamar mess petugas juga kami buka, terutama untuk ibu-ibu yang membawa bayi dan warga yang sedang sakit. Namun ditengah riuhnya suasana, kami bersyukur bisa mendapat bahan bakar untuk genset. Sehingga pada saat malam hari, kami memiliki penerangan untuk bermunajat kepada-Nya.
Dua Minggu yang Tidak Pernah Diajarkan di Diklat Mana Pun
Tidak ada yang pernah mengajarkan kepada kami bagaimana mengelola sebuah tempat pengungsian. Tugas sehari-hari kami adalah melaksanakan penimbangan kendaraan dan memastikan angkutan barang memenuhi ketentuan. Namun, bencana alam membuat kami harus menghadapi keadaan yang sama sekali berbeda.

PDAM tidak lagi berfungsi. Persediaan air bersih kami juga mulai menipis. Dalam kondisi itu, air hujan yang tertampung di bawah platform jembatan timbang menjadi satu-satunya sumber air yang bisa digunakan. Air yang sebelumnya tidak pernah menjadi perhatian kini menjadi begitu berharga. Air tersebut kami manfaatkan untuk mandi dan kebutuhan MCK.
Pada 29 November, curah hujan mereda, matahari bersinar sangat cerah. Terdengar seperti sebuah kabar baik, akan tetapi hal ini menyebabkan persediaan air yang sebelumnya kami peroleh dari bawah timbangan, berangsur-angsur habis digunakan. Pengungsi yang tidak bertanggung jawab, buang hajad sembarangan, Bau menyengat mengelilingi area UPPKB Seumadam. Sedangkan jumlah pertugas yang bertahan saat itu tidak sebanding dengan jumlah pengungsi.
Di sisi lain persediaan makanan kami juga semakin terbatas. Sisa bahan makanan dari toko dan rumah warga yang terkumpul tidak lagi dapat mencukupi. Kami makan seadanya, kehausan, tidak bisa tidur ataupun sekedar menjaga kebersihan diri. Sudah berhari hari kami tidak mandi dan menahan keinginan buang hajad. Di tengah situasi itu, seorang anak bertanya kepada ibunya,
“Kapan kita pulang, Bu?”
Dan sedihnya tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti.
Ketika Harapan Mengembalikan Ruang Senyum
Keesokan harinya tanggal 30 November, UPPKB Seumadam mendapat kunjungan tak terduga. Ibu Najwa Shihab Bersama Yayasan Save The Children membawa bantuan. Kehadiranya langsung menjadi pusat perhatian, semua orang berkumpul dan melakukan sesi wawancara dengan beliau. Di tengah sesi wawancara salah satu Ibu pengungsi menangis tersedu menceritakan kondisi pilu yang dialaminya “ Rumah saya tenggelam bu, tinggal atapnya saja terlihat “. Ibu Najwa Shihab merangkulnya seakan memberitahu kepada kami kalau kami tidak lagi sendirian.
Akses dari arah Sumatera Utara mulai menunjukkan perubahan. Beberapa wilayah yang sebelumnya terputus karena banjir mulai dapat dilalui. Di tengah kondisi tersebut, bantuan perlahan mulai sampai ke UPPKB Seumadam.
Air minum, makanan, selimut, obat-obatan, susu, dan kebutuhan lainnya mulai berdatangan dari para dermawan. Tidak hanya bantuan pangan. Bantuan jaringan komunikasi melalui internet Starlink membuka kembali akses internet di lokasi.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, kami bisa berkabar dengan keluarga diwilayah lain.
“Alhamdulillah, kami disini dalam kondisi baik, tidak perlu khawatirin tegar ya bu,” ujarku kepada kedua orang tuaku dirumah, menghilangkan rasa cemas keduanya.
Air Surut, Tetapi Kehidupan Belum Langsung Pulih
Hari-hari berikutnya air mulai surut dari sejumlah ruas jalan. Lalu lintas di depan UPPKB Seumadam perlahan normal. Satu per satu pengungsi dan petugas yang sebelumnya terisolir mulai meninggalkan UPPKB untuk kembali ke rumah. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk melihat apa yang tersisa dari harta benda dan membersihkan tempat tinggal mereka dari lumpur serta genangan air.
Operasional di UPPKB sendiri belum berjalan normal hingga seminggu kemudian. Listrik masih padam, air PDAM belum hidup, dan jaringan internet belum stabil. Kami para petugas juga harus melakukan gotong royong membersihkan area UPPKB yang sebelumnya digunakan untuk pengungsian. Salah satu pengungsi yang hendak pulang sempat mendekati kami, “terima kasih karena telah memberi kami tempat berteduh”.
Melayani Ketika Diri Sendiri Juga Terdampak
Selama ini, tugas kami di UPPKB adalah melakukan pengawasan, pencatatan, serta penindakan terhadap kendaraan angkutan barang . Pekerjaan itu berkaitan dengan keselamatan perjalanan serta ketahanan jalan.
Namun, pengalaman dua minggu itu menunjukkan bahwa peran kami sebagai bagian dari Kementerian Perhubungan bisa lebih luas dari sekadar angka di timbangan. Di situlah kami memahami bahwa terhubung, melayani, dan bergerak untuk negeri bukan sekadar slogan.
Maknanya kadang hadir dalam bentuk paling sederhana, ketika situasi menempatkan kami dalam kondisi yang sulit, namun saling membantu, saling berbagi, dan saling menguatkan hingga melewatinya bersama-sama.
_________________
Tulisan ini merupakan tulisan pemenang juara 2 pada Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Moch. Tegar Harfiansyah dari BPTD Kelas II Aceh.
_________________
.jpeg)