Jakarta – Pengembangan integrasi dan konektivitas transportasi di wilayah perkotaan kota cukup massif agar mendorong masyarakat beralih menggunakan angkutan massal untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kehadiran MRT, LRT, KRL, Bus Rapid Transit (BRT) hingga angkutan pengumpan (feeder, mikro trans) diharapkan dapat menjadi alternatif perjalanan yang lebih efisien, nyaman, dan ramah lingkungan. Namun, tersedianya layanan transportasi umum belum otomatis membuat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi.
Praktisi transportasi berkelanjutan Wendy Aritenang mengatakan penggunaan transportasi massal di Jakarta masih relatif rendah. Wendy menilai masih ada tantangan yang perlu dibenahi agar transportasi massal benar-benar menjadi pilihan utama masyarakat.
“Saat ini hanya sekitar 5% pergerakan masyarakat menggunakan transportasi massal. Angka tersebut masih jauh dari kota-kota besar dunia seperti London, Tokyo, Paris, dan New York yang tingkat penggunaan transportasi publiknya telah mencapai 40% hingga 50%,” ujar Wendy.
Pentingnya First Mile – Last Mile Hingga Fasilitas Park and Ride
Menurut Wendy, persoalan tersebut berkaitan dengan perjalanan yang harus ditempuh masyarakat sebelum dan sesudah menggunakan transportasi umum atau dikenal sebagai first mile dan last mile. First mile adalah titik awal perjalanan dari rumah menuju simpul transportasi seperti halte atau stasiun, sedangkan last mile merupakan perjalanan dari titik pemberhentian menuju lokasi tujuan akhir.
"Saya lihat masalah first mile dan last mile-nya yang belum terlalu kita benahi. Sehingga pengguna MRT ini belum maksimal. Kemarin saya diskusi sama MRT, mereka bilang baru sekitar sepertiga dari kapasitas maksimal," ujar Wendy dalam Podcast HubTalks, Selasa (26/5).
Meski demikian, ia melihat berbagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut mulai menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya melalui pengembangan fasilitas park and ride yang memungkinkan masyarakat memarkir kendaraan pribadinya sebelum melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum.
"Kalau saya lihat sih upaya-upayanya sekarang sudah lumayan banyak disediakan park and ride. Kalau mau naik motor ya parkir di situ, kalau naik mobil ya parkir di situ. Itu indikasi bagus. Jadi orang parkir di situ terus pakai angkutan umum," ucap Wendy.
Menurut Wendy, pembangunan sejumlah stasiun dan layanan transportasi baru juga mulai mempertimbangkan kebutuhan integrasi antarmoda sejak tahap perencanaan. Langkah tersebut penting agar perjalanan masyarakat tidak terputus hanya karena sulit menjangkau halte atau stasiun.
Persoalan first mile dan last mile juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan transportasi berkelanjutan. Wendy menjelaskan bahwa pendekatan yang banyak digunakan saat ini dikenal dengan konsep Avoid-Shift-Improve. Konsep avoid dilakukan dengan mengurangi perjalanan yang sebenarnya tidak perlu.
"Kalau orang transportasi, pertama berpikir kalau tidak perlu jalan, ya tidak usah jalan. Avoid. Kalau toh memang harus jalan, kita shifting ke transportasi yang lebih ramah lingkungan. Kalau saya belanja tiap hari ke pasar mungkin naik motor atau mobil. Tapi kalau belanjanya seminggu sekali saja, itu sudah menghemat perjalanan. Jadi kita melakukan avoid," jelas Wendy.
Sementara itu, strategi shift dilakukan dengan beralih dari kendaraan pribadi menuju moda transportasi yang lebih ramah lingkungan, terutama transportasi massal.
"Kalau ada bus pasti kita pakai bus. Zaman sekarang sudah begitu. Atau aktivitas ke pasar seminggu sekali tidak hanya irit sekaligus efisien untuk transportasi hijau," sambungnya.
Adapun strategi improve diwujudkan melalui penggunaan teknologi transportasi yang lebih efisien dan rendah emisi, seperti bus listrik, kereta listrik, maupun kendaraan berbasis energi alternatif lainnya.
Menurut Wendy, penggunaan transportasi umum tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan dan bagi masyarakat secara langsung, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas, termasuk terhadap konsumsi energi nasional.
"Kalau saya dari sisi waktu lebih jelas, lebih hemat. Saya bisa lebih banyak spend waktu untuk keluarga maupun teman. Kualitas hidup saya lebih bagus. Selain itu, menghemat energi artinya menghemat ketergantungan kita terhadap impor. Menghemat APBN, menghemat devisa dan lain-lain. Jadi kontribusi kita di situ sebetulnya banyak sekali manfaatnya," katanya.
Karena itu, Wendy berharap masyarakat tidak lagi memandang penggunaan transportasi umum sebagai pilihan kedua atau sekadar alternatif ketika jalanan macet.
"Maka saya ingin buat orang yang pakai transportasi massal itu jangan merasa bahwa saya susah tetapi saya merasa saya keren karena bermanfaat kepada diri saya sendiri dan lingkungan,” tutup Wendy.
Kedepan, keberhasilan transportasi massal tidak hanya ditentukan oleh panjang jalur atau jumlah armada yang tersedia. Kemudahan masyarakat mengakses layanan tersebut sejak keluar dari rumah hingga tiba di tujuan juga menjadi faktor penting. (AH/HG/ME/FM)
.jpg)