Liputan Khusus

Praktik Rumah Kita di Rote

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Rabu, 20 Desember 2017
Jumlah Dilihat: 16004 kali

Rumah Kita merupakan bagian dari program Tol Laut. Rumah Kita digunakan sebagai tempat untuk menampung komoditas sehingga dapat didistribusikan ke wilayah-wilayah lain dan menjaga harga dipasar tetap stabil. Selain itu, juga agar ada muatan balik yang dibawa dari daerah asal. Rumah Kita terdapat di beberapa daerah salah satunya di Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bupati Kabupaten Rote Ndao Drs. Lens Haning, MM mengatakan Rumah Kita dapat memberikan manfaat dan dampak bagi kehidupan juga kesejahteraan masyarakat terkait dengan program tol laut. Oleh karena itu, bukan hanya Kementerian Perhubungan saja yang memiliki andil dalam program tersebut.

“Tidak hanya perhubungan, (Kementerian) perdagangan, tetapi sektor lain pun harus disertakan. Pertanian menghasilkan apa, begitu pula dengan peternakan. Oleh karena itu, sektor-sektor lain pun menentukkan dan mengisi Rumah Kita,” ungkap Lens Haning.

Pulau Rote terletak di bagian paling selatan Indonesia.Pulau Rote pun termasuk ke dalam rute (T3) yang melayani rute Tanjung Perak-Calabai(Dompu)-Maumere-Larantuka-Lewoleba-Rote-Sabu-Waingapu-Sabu-Rote-Lewoleba-Larantuka-Maumere-Calabai(Dompu)-Tanjung Perak. Kapal-kapal tol laut yang membawa komoditas berupa semen, pupuk organik, dan pakan ternak ini bersandar setiap sebulan sekali di Pelabuhan Ba’a.

Kepala Kantor Unit Pelakasana Pelabuhan Kelas III Ba’a Welhelmus D. Dami menyatakan mendukung terselenggaranya program Rumah Kita. Tak hanya itu, mereka juga selalu berkoordinasi dengan pengelola Rumah Kita agar masyarakat dapat merasakan manfaat program tersebut.

“Rumah Kita sebagai tempat masyarakat untuk mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau. Kami berharap masyarakat yang berada di sekeliling Pulau Rote bisa merasakan manfaat program Tol Laut terutama dengan kehadiran Rumah Kita sehingga apa yang sudah diprogramkan benar-benar dinikmati dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat apalagi ini merupakan daerah terluar, terbelakang, dan terpencil,” kata Welhemus D. Dami.

Semen tol laut hanya untuk masyarakat

Saat ini, komoditas tol laut berupa semen didistribusikan ke Toko Tujuh Jaya sebagai gerai Rumah Kita. Untuk mekanisme pengambilan, Toko Tujuh Jaya menjemput menggunakan mobil ke Pelabuhan Ba’a lalu diletakkan di gudang kemudian dibawa ke toko.

Pemberitahuan jadwal tol laut diinformasikan tiga atau empat hari sebelum kedatangan kapal. Toko Tujuh Jaya hanya perlu menunggu informasi tersebut untuk mengambil container yang berisikan semen Gresik.

Pemilik Toko Tujuh Jaya Fictor mengatakan ia menjual semen Gresik tol laut seharga Rp. 47.500 kepada masyarakat. Tokonya juga menjual semen lain yang bukan dari tol laut seharga Rp. 55.000. Ia meyakini dari segi kualitas semen Gresik tol laut lebih baik dibandingkan semen lainnya.

Sebelum ada tol laut, satu sak semen Gresik dibandrol harga Rp 55.000. Perbedaan harga ini membuktikan tol laut membantu menurunkan harga sehingga masyarakat dapat menikmati semen dengan harga terjangkau.

Fictor memiliki kebijakan sendiri ketika akan menjual semen Gresik tol laut tersebut kepada masyarakat. Ia hanya menjual semen Gresik tol laut untuk perseorangan, tidak untuk keperluan proyek. Masyarakat sangat antusias dan berminat untuk membeli semen Gresik tol laut ini. Semen tersebut sekali datang membawa tiga kontainer dan langsung terjual habis dalam waktu 2 minggu saja.

“Saya menjual lebih kepada masyarakat seperti yang membeli eceran di bawah 10 sak. Jadi, biar bisa terbagi rata dan lebih banyak yang dapat. Untuk proyek, saya berikan pilihan yang lainnya, bukan semen tol laut,” ujar Fictor.

Beralih ke koperasi karyawan

Toko Tujuh Jaya menjadi satu-satunya gerai Rumah Kita di Rote. Oleh karena itu, Welhelmus Dami mengusulkan Rumah Kita beralih ke koperasi karyawan Pelabuhan Ba’a. Penjajakan kerjasama tersebut sudah dilaksanakan ketika rapat dengan PT. Pelindo III, Bulog, dan operator di Surabaya beberapa waktu lalu.

“Kami katakan kalau bisa jangan hanya di satu tempat saja. Kami tawarkan koperasi Pelabuhan Ba’a. Kami juga sudah menyiapkan dokumen lengkap. Kalau boleh kerjasama dengan koperasi, nantinya akan membantu distribusi juga. Paling tidak, tahu siapa yang memang pantas mendapatkan barang-barang tol laut tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan masyarakat kurang mampu yang seharusnya dapat menikmati barang tol laut. Di sisi lain ini juga dapat menjadi alat bantu promosi mengenai tol laut. Ketika masyarakat sudah merasakan terjangkaunya harga beli barang tol laut, maka mereka dapat menceritakannya kepada orang lain. Hal ini tentu dapat menarik minat masyarakat untuk semakin memanfaatkan tol laut.

Koperasi tersebut hanya akan menjual barang tol laut saja, tidak akan dicampur dengan barang lainnya. Dalam masa penjajakan ini, koperasi sudah mendapatkan satu container dari tiga container semen yang datang. Pada permulaan ini dimulai dengan satu container terlebih dahulu untuk melihat bagaimana antusiasme masyarakat. Semen tersebut disimpan di gudang yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan.

Nantinya diharapkan koperasi dan PT. Pelindo III akan membuat kesepakatan tertulis untuk mengetahui batasan-batasan seperti apa tugas koperasi, manajemen pengelolaan koperasi serta Rumah Kita, sistem pembayaran, dan pengirimannya. Tak hanya dapat memperjelas cara kerja, hal ini juga dapat memudahkan evaluasi Rumah Kita.

Setiap kali kapan tol laut bersandar diharapkan akan membawa barang dari Rote. Untuk mengisi muatan balik kapal tol laut tersebut, para karyawan koperasi akan dikerahkan untuk mencari barang dari pengusaha lokal yang dapat dijual ke Surabaya. Mereka mempunyai waktu selama 21 hari untuk melaksanakan tugas tersebut sebelum kapal tol laut datang.

“Sekarang ini Rumah Kita tidak memiliki sumber daya manusia, lalu siapa yang akan mencari barang? Apakah dari Pelindo III ditugaskan seperti itu tidak? Atau hanya menampung barang saja? Kalau ada kesepakatan pasti akan berjalan karena harus ditaati bersama,”lanjut pria yang biasa dipanggil Pak Mus ini.