Direktorat Jenderal Perhubungan Laut

PEMERINTAH AKAN SIAPKAN ANGKUTAN LAUT TERNAK

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Rabu, 06 Pebruari 2013
Jumlah Dilihat: 1489 kali

(Sydney, 6/2/2013), Kementerian Perhubungan berencana mengembangkan angkutan laut ternak sapai dan kerbau mulai dari penyediaan kapal khusus dan  terminal khusus ternak sapi. Pengembangan angkutan laut ternak tersebut bertujuan agar mampu mengefisienkan pengangkutan dan menjaga kualitas sapi. Ditargetkan, pengembangan angkutan laut ternak dapat dimulai dengan  diawali pembangunan  terminal khusus sapi  pada semester II tahun 2013.  Demikian dikatakan Menteri Perhubungan E. E. Mangindaan, Rabu (6/2) di Sydney, Australia. "Dalam beberapa rapat kabinet, selalu dibicarakan mengenai upaya untuk membenahi pengangkutan sapi dari berbagai pulau dalam upaya peningkatan Ketahanan pangan Indonesia. Kami pun langsung mempelajarinya dari Australia," ujar Menhub.

Turut serta dalam rombongan Menhub, Pelaksana Harian (Plt) Dirjen Perhubung Laut Leon Muhammad, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti, dan Direktur Utama Pelni Jussabela Sahea. Menteri Perhubungan melakukan peninjauan sistem pengangkutan ternak Australia di Darwin sebagai awal kunjungan kerja Menteri Perhubungan di Australia dalam rangka menandatangani Air Service Agreement antara Indonesia dan Australia yang rencananya akan dilaksanakan hari Kamis, 7 Februari 2013 di Canberra.

Menurut Menhub, Kemenhub sudah memiliki rencana yang jelas dalam pengembangan angkutan laut ternak dengan membangun fasilitas terminal khusus sapi dan juga akan membangun kapal pengangkut sapi. "Pemerintah akan bangun terminal di Lampung dan Sumba. Dari dua pelabuhan itu tercatat pengangkutan sapi terbanyak," ujar dia. Sementara itu, dikatakan Plt. Dirjen Perhubungan Laut, Leon Muhammad, kapal pengangkut sapi yang akan dibangun pemerintah diharapkan akan mengangkut 1.500 ekor sapi. "Ukuran kapalnya 3.000 GT (GT), dengan prediksi biaya Rp 100 miliar," ujar Leon. Sebagai pembanding, ukuran kapal feri di Merak-Bakauheni antara 3.000-5.000 GT.
   
"Meski pengadaan kapal pengangkutan sapi belum dianggarkan Kementerian Perhubungan dalam APBN 2013, namun saya ingin supaya dialokasikan pada APBN Perubahan 2013. Saya pikir ini penting, dan kita mampu membangunnya," ujar Menhub. Menhub menekankan bahwa  transportasi bukan sekedar melayani mobilitas orang tetapi juga barang termasuk hasil produksi pertanian. Menurut Mangindaan, sudah ada industri galangan kapal di Pulau Batam yang siap untuk membangun kapal khusus sapi. "Jadi kapal itu dibangun sendiri di dalam negeri, tidak diimpor," ujarnya.  

Mangindaan menyontohkan metode pengangkutan sapi yang salah dengan menggantung sapi menggunakan jala, dari Nusa Tenggara Timur kerap membuat bobot sapi susut bahkan ada yang mati dalam perjalanan. Penyusutan berat sapi cukup signifikan, sekitar 20-25 kilogram untuk seekor sapi. "Kalau harga daging sapi mencapai Rp 85.000 - Rp 90.000 per kilogram, dapat dibayangkan berapa kerugiannya," ujar dia. Kerugian tersebar, kata Menhub, justru ditanggung peternak yang sebagian besar adalah peternak perorangan. Sebab harus menanggung akibat penyusutan bobot sapi bahkan merugi bila sapi mati. Ditambahkan Menhub, di Australia, dalam hal sapi mati ketika dikapalkan maka tanggungjawabnya berada diihak pembeli sapi atau agen.
   
Di Darwin, Menhub melakukan penelusuran proses pengangkutan sapi. Mulai dari diangkut keluar dari perternakan dengan truk tronton berkapasitas 60 ekor sapi. Kemudian, ditempatkan di lokasi transit sapi baru kemudian dipindahkan naik ke kapal melalui koridor khusus sapi. Konstruksi koridor sapi itu sederhana. Alur koridornya mirip pacuan kuda saja. Lalu ada jalur koridor menanjak sehingga sapi langsung masuk kapal tanpa harus diangkat dengan jaring seperti di beberapa pelabuhan di Indonesia. Sapi-sapi juga tinggal diarahkan tanpa harus dipindahkan dengan derek khusus. Selain itu, Menhub menjelaskan perlu juga disiapkan area khusus transit ternak sebelum diangkut dengan kapal. Di daerah transit tersebut sapi yang akan diangkut dilakukan pengecekan dan perawatan, sehingga sapi yang benar-benar sehat yang akan diangkut. Untuk keberhasilan pengembangan angkutan laut ternak ini perlu dukungan dan peran serta berbagai pihak mulai dari Ditjen Peternakan, Kementerian Pertanian, para peternak serta pihak pelayaran dan pelabuhan. Menteri Perhubungan menyatakan kegembiraannya bahwa PT. Pelni sudah menyatakan kesanggupan untuk menyediakan kapal pengangkut ternak, namun masih belum diputuskan apakah membeli kapal baru atau melakukan modifikasi kapal kargo menjadi kapal pengangkut ternak.

Selama ini angkutan laut ternak sapi dilakukan oleh kapal-kapal pelayaran rakyat. Dahulu PT. Pelni pernah menyelenggarakan angkutan laut ternak sapi, namun karena alami kerugian maka angkutan Pelni tersebut menghilang dan pengangkutan menggunakan kapal- kapal kayu.

Konstruksi koridor sapi itu sederhana. Alur koridornya mirip pacuan kuda saja. Lalu ada jalur koridor menanjak sehingga sapi langsung masuk kapal tanpa harus diangkat dengan jaring seperti di beberapa pelabuhan di Indonesia. Sapi-sapi juga tinggal diarahkan tanpa harus dipindahkan dengan derek khusus.

Sebelumnya Menteri Perhubungan E. E. Mangindaan menyatakan penyediaan kapal angkutan khusus sapi tersebut atas permintaan Kementerian Pertanian. "Pelni sudah kami minta bagaimana mengatur, mereka menyatakan sudah siap memodifikasi kapal untuk angkut ternak," ujar dia.

Dia mengakui selama ini angkutan bagi ternak menjadi satu masalah, terlebih dalam memenuhi kebutuhan daging nasional. Selama ini angkutan ternak sapi dilakukan seadanya saja. Hal tersebut juga lantaran pasokan ternak berasal dari peternak kecil.

Dia mencontohkan kondisi berbeda terjadi di Australia, selaku produsen sapi yang besar. Sebab itu Indonesia juga belajar dari Australia perihal angkutan ternak tersebut. Menteri juga menawarkan jika Kementerian Pertanina membutuhkan angkutan untuk bibit sapi maupun sapi potong."Apa kita perlu siapkan satu tempat dimana ada kapal dan sekalian pendingin untuk sapi potong," tandas dia. (BSE)