Liputan Khusus

JASMERAH DI TANAH MERAH

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Senin, 19 Agustus 2019
Jumlah Dilihat: 2634 kali

Bunyi berdecit dari roda pesawat Trigana Air IL-281 mengiringi pendaratan kami di Bandara Tanah Merah, Boven Digoel Papua Selasa (6/8). Kepala Bandara Tanah Merah Asep Soekarjo menyambut kedatangan kami tim Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan dengandiiringi mendung dan sedikit gerimis. Kabupaten Boven Digoel memang istimewa, terutama di kota Tanah Merah yang juga menjadi ibukota dari kabupaten ini. Kota ini adalah saksi sejarah, dimana di tempat inilah para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia pernah diasingkan dan ditawan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Proklamator Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir pernah diasingkan dan menghuni penjara di sini.

Pada Januari 1935 Bung Hatta dan Syahrir tiba di Tanah Merah, Boven Digoel, setelah sebelumnya selama setahun di penjara di Batavia.Suasana di Boven Digoel sangat mengerikan bak neraka. Kemana mata memandang hanya terhampar hutan yang luas. Makin mencekam karena kehadiran nyamuk malaria yang masif dan ganas. Kebosanan dan ketidakpastian membuat para tahanan stres dan hampir gila. Ditambah nyamuk malaria yang sewaktu-waktu siap untuk menggigit.

Di Boven Digoel para tahanan tidak dijaga serta bebas bergerak, tapi hendak kemana? Andai para tahanan tersebut mau kabur, pilihan terbaik adalah Kepulauan Thursday, Australia. Untuk itu, mereka harus menempuh perjalanan sepanjang 500 kilometer dengan menyusuri Sungai Digoel yang penuh buaya, lalu menyeberangi Selat Torres. Setiba di Australia, polisi menunggu. Jika tertangkap, para tahanan itu akan dipulangkan kembali ke Boven Digoel.

November 1935, Bung Hatta dan Sutan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira, ibukota Kepulauan Banda di Maluku. Tempat baru ini jauh lebih manusiawi ketimbang Boven Digoel. Namun Bung Hatta mengatakan ia gembira sekaligus sedih karena kepindahannya ini. Gembira karena akan mendapatkan nasib yang lebih baik, namun sedih akan berpisah dengan teman-teman seperjuangannya di Boven Digoel.

Itulah sekelumit kisah tentang Bung Hatta di Tanah Merah, Boven Digoel. Saat berkunjung langsung ke situs-situs bersejarah di Tanah Merah, kami langsung teringat semboyan dari Bung Karno yang sangat terkenal yakni Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah (Jasmerah). Boven Digoel sangat cocok dijadikan tempat wisata sejarah. Situs-situs sejarah seperti Patung Bung Hatta, bekasPenjara, ruang sekap yang lokasinya hanya berjarak sekitar 1 km dari bandara Tanah Merah. Kemudian juga Rumah Sakit, Pelabuhan, Taman Makam Pahlawandan fasilitas terkait lainnya tahanan di Tanah Merah, Boven Digoel sangat layak untuk dikunjungi. Hal ini untuk membuka mata kita serta mengenang sejarah perjuangan bangsa ini. Bagaimana para pahlawan pendahulu kita berjuang merebut Kemerdekaan Indonesia secara susah payah dengan mengorban diri dan nyawanya.

Sekilas mengenai Boven Digoel. Boven Digoel adalah salah satu kabupaten di Papua yang luas wilayahnya bahkan lebih besar dari Provinsi Banten, dengan ibukotanya berada di Tanah Merah. Kabupaten Boven Digoel merupakan kabupaten baru yang dibentuk dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2002, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke, bersamaan dengan sejumlah kabupaten lain di bagian selatan, yakni Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mappi.

Jika ingin mengunjungi Boven Digoel dari Merauke, jarak yang harus ditempuh adalah sejauh 410 km. Dulu, sebelum lahan Tanah Merah dibuka, tidak mudah menuju daerah itu. Orang harus menumpang kapal uap Formalhout dari Merauke yang khusus digunakan untuk mengantar tahanan maupun pegawai sipil ataupun militer. Setelah 1927, penghuni Digoel mendadak ramai. Jumlah orang buangan (interneer) di sana mencapai lebih dari 1.200 orang.

Kini Boven Digoel berkembang. Akses ke Tanah Merah bisa ditempuh dengan beberapa cara. Dengan pesawat udara dari Bandara Sentani Jayapura menuju Bandara Tanah Merah bisa menumpang pesawat ATR-72 maskapai Trigana Air dengan waktu tempuh 1 jam. Harga tiket sekitar Rp 1.250.000,-/penumpang dengan hanya satu penerbangan setiap harinya. Begitupun bila ingin menggunakan pesawat udara dari Bandara Mopah Merauke, juga menggunakan pesawat ATR-72 maskapai Trigana Air. Harga tiket sekitar Rp 930.000,-/penumpang dengan hanya satu penerbangan setiap harinya.

Kedua melalui jalur darat via Merauke menggunakan taksi (mobil double gardan) dengan biaya sekitar 700 ribuan/penumpang. Dahulu, jika hujan turun dan jalanan rusak, perjalanan bisa mencapai 3 hari sampai satu minggu perjalanan karena mobil tertanam lumpur. Namun kini dengan komitmen dari Pemerintah, jalanan di Bovel Digoel sudah mulus dan waktu tempuh perjalanan sekitar 5-7 jam dengan kecepatan 100 km/jam lebih.

Menyelami Hakikat Kemerdekaan dengan Transportasi di Pedalaman Papua

Sambil berbincang dengan tim, Asep Soekarjo menyeruput tehnya. Pria yang sudah 1 tahun menjadi Kepala Bandara Tanah Merah ini menceritakan bahwa sebelum ada bandara Tanah Merah akses masyarakat dari dan ke Boven Digoel sangat sulit. Saat ini bandara Tanah Merah terus dilakukan pengembangan dan penambahan subsidi untuk penerbangan perintis.

Bandar Udara Tanah Merah merupakan salah satu bandara yang berada di ujung timur Indonesia khususnya di Papua, kabupaten Boven Digoel, distrik Mandobo, ibukota Tanah Merah. Dengan luas tanah seluas 575.565 m2 di bangunlah runway dengan panjang 1.250 m dan lebar 30 m. Dengan panjang dan lebar runway tersebut dapat di darati oleh pesawat jenis ATR-42. Luas apron UPBU Tanah Merah 200 m x 68 m. Dengan luas apron tersebut dapat menampung pesawat sebanyak 11 pesawat udara antara lain pesawat dengan jenis grand caravan 9 (sembilan) buah, ATR-42 1 (satu) buah, dan jenis pesawat twin otterbuah. UPBU Tanah Merah juga menyediakan satu buah helipad dengan kapasitas 1 (satu) helikopter.

Bandar Udara Tanah Merah mempunyai peran strategis dalam mendukung upaya peningkatan peran angkutan udara dalam kaitan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. Aksesbilitas di Pulau Papua kebih dominan menggunakan transportasi udara karena kondisi geografis Pulau Papua berupa pegunungan, lembah dan hutan. Dari kondisi tersebut maka tentunya transportasi udara sebagai penghubung wilayah memiliki peran yang sangat strategis dalam membuka keterisolasian daerah guna menunjang kegiatan sosial, ekonomi serta pertahanan dan keamanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan angkutan orang dan barang/jasa antar daerah di Provinsi Papua. Dalam perencanaan pengembangan Bandar Udara Tanah Merah seperti tercantum di dalam Tabel Rencana Induk Nasional Bandar Udara (Peraturan Menteri Perhubungan No. 69 Tahun 2013) bahwa Bandar Udara Tanah Merah dalam Pengembangannya direncanakan memiliki klasifikasi Bandar Udara (Aerodrome Refrence Code) 2B pada tahun 2020 dan dikembangkan hingga memiliki klasifikasi 3C.

Untuk menyelenggarakan kegiatan pengoperasian, pelayanan, pengelolaan dan pengusahaan serta pengembangan Bandar Udara Tanah Merah saat ini telah memiliki lahan seluas +/- 58,4 Ha. Kondisi lahan tersebut sudah seluruhnya dibebaskan dan telah bersertifikat pada tahun 1985 dan 2009 Pemerintah Daerah telah membebaskan lahan bandara yang direncanakan untuk pengembangan Bandar Udara Tanah Merah sesuai dengan Rencana Induk. Dalam rencana pengembangan Bandar Udara Tanah Merah perlu didukung dengan menyiapkan prasarana yang memadai salah satunya yaitu perluasan Gedung Terminal.

Terminal penumpang UPBU Tanah Merah memiliki luas terminal 600 m2, dan masing – masing dibagi menjadi 7 ruangan yaitu ruangan avsec, konter check-in, ruang tunggu, toilet umum, toilet difable, ruang ibu dan anak, ruang vvip, ruang kedatangan, dan mushola. Tiap harinya terminal penumpang UPBU Tanah Merah melayani penumpang sebanyak 55 penumpang yang datang dan berangakat. Dan di UPBU Tanah Merah juga melayani jasa kargo dan pos udara, setiap tiap harinya di gedung cargo UPBU Tanah Merah melayani kargo yang datang dan berangkat sebanyak 484.578 kg.

Asep mengatakan pengembangan Bandara Tanah Merah akan dilakukan dengan perpanjangan landasan dari 1.250 meter menjadi 1.400 meter, perluasan terminal penumpang, dan perbaikan alat bantu pendaratan. Pengembangan akan dimulai pada 2020.

"Pengembangan bandara Tanah Merah agar pesawat berukuran lebih besar dapat mendarat. Otomatis daya angkut semakin besar dan jadwal penerbangan akan bertambah," ujar Asep.

Di bandara Tanah Merah terbagi terbagi menjadi dua penerbangan yakni penerbangan perintis (kargo dan penumpang) dan ada penerbangan komersil. Kebanyakan adalah penerbangan kargo. Jumlah penerbangan per hari bisa mencapai 40-50 penerbangan. Ada sekitar 8 maskapai yang beroperasi di sini.

Pun begitu dengan penumpang yang dibagi menjadi dua yaitu penumpang komersil dan ada penumpang perintis. Penumpang komersil per hari rata-rata sampai dengan 30 penumpang. Untuk komersil rutenya Jayapura - Tanah Merah – Merauke dan Merauke – Tanah Merah – Jayapura. Dari Jayapura - Tanah Merah penumpang per harinya sekitar 35 orang. Itu pun dilakukan pembatasan karena pesawat yang ke Tanah Merah harus membawa bahan bakar karena di bandara Tanah Merah belum ada tempat untuk mengisi avtur. Untuk Tanah Merah - Merauke load factornya hampir 60 persen penumpang begitupun sebaliknya.

“Tetapi yang agak sulit adalah rute tanah merah Jayapura, keterisiannya kadang-kadang melebihi kapasitas pesawat,” sebut Asep.

Untuk kargo yang ke pegunungan bintang atau Oksibil sehari bisa 50 ton, karena salah satu supplier bahan pokok dan bahan bangun salah satunya adalah dari Tanah Merah. Penerbangan subsidi dari Tanah Merah sendiri ada dua jenis yaitu subsidi kargo perintis yang digelontorkan Kemenhub yang dikenal sebagai jembatan udara. Sekarang untuk jembatan udara sendiri dapat kita layani sehari 2 kali dengan kapasitas masing masing pesawat 1 ton. Jadi untuk perintis kargo selama ini sudah terlayani 2 ton per hari. Untuk subsidi perintis kargo melayani rute dari bandara Tanah Merah ke daerah-daerah seperti Bomakia, Oksibil, Kiwirok, Koroway Batu, Maggelum, Wanggemalo, dan Yaniruma. Kemudian ada juga penerbangan perintis penumpang dengan rute dari bandara tanah merah Bomakia, Oksibil, Kepi, Koroway Batu, Manggelum, Wanggemalo dan Yaniruma. Untuk Kendala dari segi operasional sangat minim, tidak ada kendala yang sangat menonjol, tetapi karena kita berada di Papua kendala utama adalah masalah cuaca.

“Untuk anggaran subsidinya sendiri untuk perintis kargo Rp. 12,5 milyar dan Rp. 7,3 milyar untuk penumpang. Dengan adanya subsidi ini, tarif tiket penerbangan perintis bisa ditekan hingga tinggal berkisar Rp 150.000 sampai Rp 340.000 per orang.” tambah Asep.

Program Subsidi Penerbangan Perintis baik kargo maupun penumpang ini adalah wujud komitmen pemerintah seperti yang tertuang dalam program Nawacita Presiden Joko Widodo yakni membangun Indonesia dari daerah pinggiran, terdalam dan terluar. Ini juga bukti negara hadir, sebagai komitmen dari kemerdekaan Indonesia.

Hal ini seperti dituturkan Eli Koroway (22) yang merasakan makna kemerdekaan dengan hadirnya transportasi di pedalaman Papua.Eli akhirnya pulang ke kampung halaman setelah belasan tahun merantau ke Jember, Jawa Timur, sejak 2009 lalu. Eli merupakan penumpang pesawat tujuan Tanah Merah-Koroway Batu.

"Saya baru pulang dari Jawa. Sejak 2009 saya di Jawa. Setelah 12 tahun, saya ingin pulang. Saya kangen sama orang tua, makanya ingin pulang" kata Eli yang bekerja ditambak udang di Pantai Selatan.

Akses jalan ke Koroway Batu tidak lah mudah. Eli bercerita, dulu jika dari Tanah Merah ke Koroway Batu, ia harus berjalan kaki selama tiga hari tiga malam. Pernah beberapa kali dilakukan Eli bersama orang tua. Jalan melewati hutan belantara. Dengan pemandangan gelap gulita, serta binatang-binatang liar.

Eli naik Pesawat Caravan dari Bandar Udara Tanah Merah ke Bandar Udara Koroway Batu. Perjalanan yang ditempuh memakan waktu 30 menit. Dengan jarak tempuh sekira 100 kilometer di atas ketinggian 1850 mdpl. Pesawat Karavan bisa ditumpangi sekira 12 orang. Pesawat itu disubsidi oleh pemerintah, sehingga per penumpang hanya dikenakan Rp 309.900

Rasa penasaran perubahan di kampung halaman dan kerinduan akan orang tua membuat Eli bersikeras ingin kembali ke Koroway Batu. Dari Surabaya terbang ke Merauke. Dari Merauke melalui jalur darat menuju Tanah Merah. Ia melalui waktu berhari-hari melintas antar kota ke kota.

"Dari Merauke ke Tanah Merah tujuh-delapan jam. Jalanan sudah bagus," ucap Eli.

Sudah dari jauh-jauh hari Eli memberi kabar akan pulang. Eli akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 di kampung halaman. Eli terlihat semringah. Ia tak lagi harus jalan kaki tiga hari, tiga malam melewati hulan belantara dari Tanah Merah ke Koroway Batu.

Hal yang sama juga dirasakan Marselina Jamlean (43), salah seorang warga yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boven Digoel. Dia dan banyak warga Boven Digoel lainnya sering kali memilih menggunakan moda transportasi udara karena lebih cepat serta harga yang relatif terjangkau.

”Masyarakat pilih penerbangan karena waktu lebih cepat. Manfaat penerbangan juga sangat terasa. Ke Jayapura misalnya, dengan pesawat hanya makan waktu satu jam, sebelum ada penerbangan, harus berangkat beberapa hari sebelumnya,” kata Marselina.

Sebelum ada layanan penerbangan dari Tanah Merah ke Jayapura, warga Boven Digoel harus ke Merauke terlebih dahulu untuk terbang ke Jayapura. Padahal, untuk sampai di Merauke butuh waktu hingga delapan jam melalui jalur darat. Jalur sungai bahkan lebih lama lagi, bisa makan waktu berhari-hari karena laju perahu sangat bergantung pada pasang-surut air.

Asep mengatakan sesuai dengan harapan masyarakat, pemerintah saat ini sedang mengusulkan untuk menambah jumlah subsidi angkutan perintis.

“Saat ini sedang kami usulkan, mudah-mudahan tahun depan dapat teralisasi,” pungkas Asep.(HH/RDL/YSP/HA)