Liputan Khusus

Dialog Publik Kemenhub: Gaya Hidup Sehat untuk Imunitas Kuat

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Jumat, 13 November 2020
Jumlah Dilihat: 11800 kali

JAKARTA - Sebuah strategi yang lazim dalam menghadapi perang kuncinya adalah mempersiapkan diri dan mempelajari musuh. Demikian halnya saat kita belakangan ini gencar memerangi epidemi Covid-19. Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa, yang muncul di Wuhan Cina, Desember 2019 lalu. Virus ini kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).

Di negeri ini, jumlah penderita Covid-19 masih terus bertambah. Hingga akhir tahun 2020, diperkirakan bakal menembus angka 500 ribu orang, yang masuk ke phase kritis berkisar 5-6%, demikian halnya skema pandemi Covid-19 di dunia, grafik pandemi memang sudah melandai tetapi jumlahnya masih terus bertambah.

Tetap Waspada

Perang belum berakhir, senjata pamungkas vaksin anti Covid-19 memang sudah ditemukan namun belum bisa diandalkan untuk menghentikan penyebaran – ekskalasi dari Corona Virus asal Wuhan China itu. di Indonesia baru akan diaplikasikan mulai Januari 2021.

Mengantisipasi kondisi tersebut, sudah berulangkali Kementerian Perhubungan menggelar webinar menyoroti upaya mencegah penyebaran Corona Virus di berbagai moda transportasi yang ditujukan untuk masyarakat / konsumen serta operator.

Menteri Perhubungan, dalam pengantarnya dalam webinar Dialog Public internal Kemenhub (DPIK) yang mengangkat topik “Gaya Hidup Sehat Untuk Imunitas yang Kuat, yang diselenggarakan Sabtu, 7/11/2020 lalu mengungkapkan, insan transportasi harus tetap bekerja dan melayani masyarakat di tengah pandemi yang masih berlangsung saat ini, dan harus tetap waspada, dan menjaga pola hidup sehat serta mengikuti protokol kesehatan secara ketat dalam menjalankan tugasnya.

Disiplin Diri, Penting

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam sambutannya, menceritakan perihal pengalamannya terpapar Covid-19 dan bagaimana upayanya untuk pulih, serta menjaga kesehatannya, dengan menerapkan gaya hidup yang sehat di era pandemi Covid-19.

Mengenai gaya hidup yang sehat, lanjut Menteri Budi Karya Sumadi, sebenarnya tidak ada yang baru, seperti yang pernah kita semua dengar – semasa sekolah dulu, mengatur keseimbangan antara intake makanan yang sehat, beraktivitas dan berolah raga rutin, istirahat yang cukup serta menjauhkan kabiasaan / perilaku yang tidak sehat.

Yang susah itu, lanjut Menhub, mendisiplinkan diri sendiri untuk mematuhi gaya hidup yang sehat. Karena itu, lanjutnya, kita berkumpul, mendengarkan para pakar kesehatan yang kompeten, agar kita dapat mengingatnya kembali bagaimana mengelola hidup yang sehat.

MC, Lintang Lamselaar, dan Moderator Adita Irawati menyanjung kebugaran Menhub setelah sembuh dari terpapar virus Covid-19. “Pak Budi Karya Sumadi kelihatan lebih bugar dari sebelum-sebelumnya. Semoga kita semua bisa tetap bugar. Pola dan perilaku sehat yang Pak Menhub terapkan bisa menjadi contoh – acuan kita,” sebut Lintang.

Menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat

Pandemi membuat banyak masyarakat mulai menyadari dan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penularan virus Covid-19. Tetap waspada terhadap potensi terpapar Corona Virus penting dilakukan, tetapi bukan berarti mengabaikan risiko penyakit lainnya, seperti – salah satunya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Seperti disampaikan dr Anwar Santosa PhD, SpJK (K), penyakit jantung merupakan penyakit dengan komplikasi serius dan penyebab kematian tertinggi di Indonesia – hingga saat ini. “Kasus penyakit jantung di masyarakat masih terbilang tinggi sepanjang waktu, termasuk di masa pandemic covid-19,” dalihnya.

Penyakit jantung sendiri, jelas Anwar, terdiri atas berbagai jenis dan faktor penyebabnya. Jenis penyakit jantung yang sering ditemukan di masyarakat meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, gangguan irama jantung (aritmia), dan penyakit katup jantung.

Biasanya penyakit jantung tersebut dipicu oleh sejumlah penyebab yang meliputi faktor risiko yang tidak dapat dihindari (jenis kelamin, usia, genetic/ras, riwayat keluarga) dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi terkait gaya hidup yang kurang sehat (intake cholesterol jahat berebihan / fast food, merokok, kegemukan / obesitas, alkohol, dan kurang beraktivitas atau kurang berolah raga.

Lanjut dosen FK UI itu, proses terjadinya penyakit jantung bersifat progresif sehingga penting untuk dilakukan deteksi dini sebelum penyakit diketahui saat telah pada tahap lanjut.

“Pengobatan penyakit jantung terbilang kompleks dan memakan waktu jangka panjang,” ujarnya.

Maka itu, Anwar mengingatkan, penting bagi masyarakat untuk mengetahui beberapa tips efektif dalam menjaga kesehatan jantung sebagai upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk selama pandemi ini. Berikut beberapa anjuran praktis yang dapat diterapkan:

  1. Olahraga teratur. Jadwalkan olahraga secara berkala, contohnya luangkan waktu sekitar 20-30 menit untuk berolahraga setiap harinya minimal 5 kali per minggu. Olahraga yang dianjurkan adalah aerobik yang cukup intensitas menengah seperti berjalan cepat, berkebun, senam, berenang, dan bersepeda. Aktivitas fisik yang teratur mampu mengurangi risiko sakit jantung.
  2. Jaga asupan makan. Perbanyak asupan beranekaragam sayuran dan buah, kacang-kacangan, sereal dan biji-bijian, ikan, serta minyak baik seperti minyak zaitun. Sebaliknya, batasi jenis diet yang mengandung banyak garam, gula, tepung-tepungan, lemak dan minyak trans serta jenuh, daging merah, serta produk olahan daging.

“Makan dianjurkan dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh

Anda untuk menghindari risiko kegemukan,” tegasnya.

  1. Istirahat cukup dan kelola stres. Pastikan tubuh mendapatkan istirahat cukup, seperti tidur cukup selama 7-8 jam setiap hari. Selain itu, belajar untuk mengelola stres. Stres yang tak terkontrol dan berujung kronis mampu memicu serangan jantung.
  2. Lakukan skrining jantung secara rutin. Selain menumbuhkan pola hidup sehat, skrining jantung secara rutin menjadi kunci utama menjaga kesehatan jantung, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko tinggi seperti genetik ataupun memiliki anggota keluarga dengan riwayat sakit jantung di usia relatif muda.

Skrining jantung lengkap untuk dilakukan setidaknya sekali pada dewasa pria usia di atas 40 tahun serta dewasa wanita pasca menopause atau di atas usia 50 tahun,” saran dia lagi.

Lanjut Anwar lag, individu dengan usia muda yang memiliki risiko genetik atau turunan keluarga dianjurkan melakukan pengecekan standar pada usia di atas 20 tahun untuk mendeteksi dini adanya kelainan jantung bawaan.

Biasanya, ungkap Ketua Asosiasi Dokter Jantung Indonesia itu, dokter akan memberikan rekomendasi tes jantung yang tepat dan sesuai dengan faktor risiko yang dimiliki dan temuan klinis yang ada. “Segera konsultasikan dengan dokter spesialis jantung anda untuk menjadwalkan skrining jantung Anda. Jantung yang sehat dan prima kunci hidup lebih bermakna setiap harinya,”tukasnya.

Covid-19 Adalah Musuh yang Harus Terus Dideteksi

Pembicara kedua dalam webinar Dialog Public internal Kemenhub (DPIK) dengan topik “Gaya Hidup Sehat Untuk Imunitas yang Kuat, ini adalah dr Allen Widysanto SpP.

Allen menjelaskan siapa musuh yang kita hadapi saat ini : Covid-19. Virus Corona Covid-19 , Virus Corona /Covid-19 ini dapat dilihat dari berbagai aspek. Pertama, ungkap Allen, virus itu bertransmisi (menulari), sebagian besar melalui cipratan air liur (droplet) penderita Covid-19. Kedua, lanjut Allen, cipratan liur / lendir dari penderita yang batuk atau bersin yang mengenai orang lain secara lansung atau tidak langsung masuk melalui mulut, hidung dan mata.

Namun, ungkap dr Allen lagi, banyak yang kurang mengetahui cipratan air liur/lendir itu ukurannya ada bermacam-macam, ada yang besar, sedang, dan kecil. “Ukuran yang besar jatuh ke bawah sedang yang kecil (droplet-red) melayang-layang di udara dalam jangka waktu lama, bisa terbang tertiup hembusan angin menulari melalui udara (airborne-red),” jelas Allen

Penyebaran yang airborne, lanjut dia, lazimnya terjadi pada ruang tertutup yang tidak dilengkapi ventilasi yang adequate dan tidak dilakukan sterilisasi ruangan secara periodik.

Airborne umumnya terjadi bila orang yang terpapar Virus Corona terus berbicara keras, berteriak-teriak tanpa APD (masker / face shield) maka droplet akan mencemari udara ruangan hingga menulari orang-orang yang berada di ruangan yang tidak menggunakan APD, bergerombol tidak mengatur jarak, dan dalam kurun waktu (durasi) tertentu,” pungkasnya lagi.

Selain itu, ungkap dosen FK Pelita Harapan, penyebaran Covid-19 bisa terjadi karena kontaminasi dari tubuh kita yang terpapar Virus Corona yang menempel pada barang-barang yang tercemar oleh partikel dari puncratan air liur/lendir penderita Covid-19.

Lanjut Allen, belakangan ini mulai banyak dikenal istilah superspreader – individu yang mampu menularkan Virus Corona kebanyak orang, bisa puluhan hingga ratusan orang. Dalam tempo relative singkat.

“Umumnya individu ini tidak tahu kalau dia terpapar Corona Virus (asimtomatis-red) yang kerap di sebut Orang Tanpa Gejala (OTG), yang banyak menyebarkan Covid-19, sehingga kerap menimbulkan claster-claster di suatu komunitas,” jelas Allen.

Dokter Spesialis Paru itu memberikan contoh penularan airborne seperti yang terjadi di caffe Starbucks di Korea (tahun 2020) dan juga transmisi di Transportasi masal yang terjadi di China.

“Akibat penulan airborne banyak penderita Covid-19 di Indonesia yang tidak tahu tertular di mana, bahkan mereka kerap tidak percaya karena berdalih sudah pakai masker, sudah jaga jarak, dan cuci tangan,” ujar Allen lagi.

Hal ini mungkin terjadi, menurut Allen, karena banyak diantara kita – yang sudah pakai APD dan menerapkan protokol kesehatan, tetapi belum melaksanakannya dengan baik – disiplin ketat. Misalnya, memakai dan melepas masker dengan baik.

“Mereka belum benar-benar awareness dalam menggunakan APD ada SOP (aturannya) nya dan mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin ketat sehingga berisiko tinggi terpapar Covid-19,” tambah Allen.

Menurut dr Allen, orang yang terpapar Covid-19 itu ada derajatnya dari yang tanpa gejala, ringan sampai dengan yang kritis. Demikian pula gejalanya pun sangat bervariasi, tidak sebatas gangguan pada respiratoris yang jadi ikon saat ini.

“Banyak sekarang penderita Covid-19 dengan gejala ekstra respiratoris dan ekstra pulmonary,” ungkapnya. Allen sembari memberi contoh, ada beberapa gejala, seperti timbul kelainan pada kulit, keluhan tidak bisa merasa / mencium bau, atau adanya keluhan mata merah, ada juga datang dengan keluhan diare, kendati mereka tidak ada gejala batuk-batuk, tidak ada demam, maupun sesak nafas.

“Jadi kita semua harus aware kalau ada gejala-gejala seperti itu (simtomatis-red) jangan-jangan ini manifestasi gejala ekstra respiratori dari Covid-19 yang banyak terjadi,” tambahnya.

Untuk mendiagnosa – menetapkan sesorang menderita Covid-19 selain dengan pemeriksan Rapit Test juga pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan dibantu dengan pemeriksaan lab dan Photo Rontgen / CT Scan yang diperlukan untuk tindakan lebih lanjut.

Dengan alat bantu radiologis dan CT Scan, lanjut Allen, dokter dapat mengetahui seberapa parah kondisi paru-paru si penderita Covid-19, dan juga mengontrol penyembuhan pasca penyedotan / pembuangan lendir yang mengisi kedua rongga paru (kanan dan kiri).

“Gambaran rontgen paru normal biasanya berwarna hitam, dan untuk gambaran paru yang dipenuhi lendir berwarna putih, bila mana perlu untuk mengetahui lebih jauh terjadinya gangguan pernafasan kerap dilakukan bronchoscopy (meneropong langsung saluran pernafasan-red) kendati beresiko tinggi,” tambah Allen.

Peran alat teropong itu selain alat bantu diagnose lanjut, juga alat bantu untuk tindakan yang perlu di lakukan, seperti halnya pasien X yang mengalami penyumbatan pernafasan oleh lendir yang diproduksi karena infeksi Corona Virus, dengan bronchoscopy dapat diketahui lokasi penyumbatan kemudian dicairkan dan disedot (suction) hingga pasien bisa bernafas lega.

“Setelah menjalani perawatan beberapa hari dibarengi dengan pemberian obat-obatan dan aneka Vit serta intake makan bergizi. Si pasien dinyatakan sehat dan diperboleh kan pulang,” jelasnya.

Ada sejumlah kondisi kesehatan seseorang – dengan penyakit kronis tertentu, yang akan memperberat bila dia terpapar oleh Covid-19, antara lain Hypertensi, Diabetes, Obesitas, penyakit jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronis ( PPOK), dan penderita kanker.

“Pasien dengan komorbid seperti diatas, bisa cepat jatuh ke phase kritis,” tukas Allen.

Padahal, lanjut Allen, penyakit Covid-19 dapat sembuh dengan kondisi tubuh yang prima dan system imun (kekebalan tubuh) yang kuat – baik. Di tubuh memiliki dua system imun, yakni : eksternal dan internal.

Ungkap dia lagi, kekebalan tubuh eksternal antara lain kulit, cilia (rambut getar). Sedang kan system imun internal yang pertama (first line defence - FLD) di dalam saluran nafas, beruap sel-sel makrofag yang berfungsi memakan virus / bakteri – benda asing.

Bila virus / bakteri itu kalah maka kerja system imun itu berhenti sampai disitu saja, bahkan kita tidak tahu kalau kita pernah terinfeksi. Tapi bila makrofag tidak kuat / mampu mengalahkan virus / bakteri yang masuk, maka akan ada sel yang namanya Natural Killer Cell yang akan bekerja, yang bisa mematikan sel kanker, NKC ini juga ada pada FLD.

Setelah makrofag berhasil mengalahkan virus / bakteri yang masuk, selanjunya sel pertahan itu akan mempresentasikan kepada sistem imun tubuh yang ke dua – second line defence (SLD), yakni T cell dan B cell. (yang sering disebut dengan antibody).

Bila seseorang yang pernah terpapar Covid-19 atau yang sudah memiliki anti body, kembali terpapar oleh Virus Corona, maka FLD (makrofag) dan SLD (antibody) akan bersama-sama memerangi benda asing tersebut (virus/bakteri).

“Sebenarnya sistem imunitas di dalam tubuh manusia sudah sangat bagus, Asal kita tahu sitem imun itu bekerja secara kontinyu bukan switch on/switch off sehingga pola rutinitas yang kita lakukan sangat mempengaruhi kekuatan dari sistem imun kita,” jelas Allen.

Jadi, lanjut Allen, tubuh tidak bisa membangun sistem imun yang kuat secara instan. Jadi harus dengan sikap / gaya hidup yang sehat, seperti memberikan asupan makan yang bergizi (sejak balita hingga dewasa/lansia), berolah raga secara rutin, istirahat yang cukup, mengelola stress dengan baik dan menghindari gaya hidup yang tidak sehat (merokok, minum alkohol, makanan junkfood dll).

“Justru berbahaya jika untuk meningkatkan imunitas dengan cara instan dengan memberikan berbagai asupan supleman (multi vitamin), salah-salah bisa terjadi over dosis yang justru bisa menimbulkan efek samping dan kekebalan tidak terbentuk (meningkat),” pungkas Ellen.

Lanjut dia, itulah cara yang terbaik yang dilakukan dalam memerangi Covid-19, dengan menjaga kebugaran dengan gaya hidup sehat (seperti yang sudah diterangkan dr. Anwar) dengan meningkatkan kebugaran dan melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin yang ketat, selama vaksin anti Covid-19 belum bisa diaplikasikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Pada sesi narasumber 3, Presenter dan Pegiat Olahraga, Melanie Putria, mengingatkan audiens webinar tentangnya pentingnya berolah raga secara terprogram terstruktur, dan terjadwal, sehingga hasilnya dapat diukur. Melani juga memperagakan beberapa olahraga ringan dan sedang yang dapat meningkatkan kebugaran tubuh jika dilakukan secara rutin dan konsisten.

Refresh Gaya Hidup

Mengomentari penjelasan dr Allen Widysanto, moderator yang juga juru bicara Menteri Perhubungan, Adita Irawati menegaskan, bahwa webinar Intern SDM dan keluarga Kemenhub ini sebagai uapaya refresh – penyegaran mengenai gaya hidup sehat untuk meningkatkan imunitas di era pandemi Covid-19.

Adita menambahkan, semua SDM Kemenhub kemungkinan sudah faham SOP selama diperjalanan menunju kantor, di kantor, waktu makan / istirahat, hingga pulang kantor dan sampai di rumah, dalam menerapkan protokol kesehatan. “Dengan seringkali diingatkan – refresh mengenai gaya hidup sehat dan pelaksanaan protokol kesehatan dengan disiplin yang ketat saat pandemi Covid-19, bisa menjadi sikap bagi kita semua,” ujar Adita.

Adita berharap, seumberdaya manusia (SDM) Kementerian Perhubungan dan keluarganya tidak bersikap seperti “semangat tutub botol”, hanya pada awal saja disiplin, tetapi lama-kelamaan akan mengabaikan protokol kesehatan.

Mengutip pernyataan Menhub, Adita mengungkapkan, bahwa untuk menerapkan disiplin pada diri sendiri itu memang susah. Staf Khusus Menteri Perhubungan inipun berharap Dialog Public Internal Kemenhub yang luar biasa dan diikuti lebih dari 3000 audiens Kementerian Perhubungan ini bisa menjadi awal yang baik bagi karyawan Kementerian Perhubungan, dan mereka semua yang ingin hidup yang sehat dan selamat di era pandemi Covid-19. (IS/AS/HG/HT)