Berita Umum

WAPRES : BUTUH HARMONISASI SEMUA PIHAK UNTUK TEKAN JUMLAH KECELAKAAN JALAN RAYA

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Senin, 21 April 2008
Jumlah Dilihat: 2601 kali

"Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah korban flu burung, yang hanya berkisar 100 orang per tahun. Dan karena flu burung, yang selalu menjadi perhatian besar di dunia, kita sering dimaki. Padahal, korban akibat kecelakaan di jalan jauh lebih tinggi, seribu kali lebih besar," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat memberikan sambutan dalam peresmian Pekan Keselamatan Nasional (Global Road Safety Week) di Silang Monas, Minggu (20/4).

Pekan Keselamatan Nasional yang digelar untuk kali kedua di Indonesia ini sendiri, merupakan bagian dari kampanye internasional yang digagas Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk wilayah Asia-Pasifik (United Nations Economic and Social Commision for Asia and the Pacific/UNESCAP) dan organisasi kesehatan dunia WHO. Di Indonesia, kegiatan ini terselenggara antara lain melalui kerja sama Departemen Perhubungan dan Kepolisian RI melalui Direktorat Lalu Lintas dan Jalan, serta institusi lain yang berwenang dalam hal ini. Kegiatan ini sendiri bertujuan meningkatkan kesadaran yang lebih baik dalam hal keselamatan jalan raya kepada semua pengguna. Utamanya adalah bagi generasi muda yang mayoritas merupakan pengguna jalan raya dan paling berisiko tinggi terhadap kecelakaan jalan raya.

Disebutkan Wapres, beberapa faktor yang menjadi pemicu tingginya kecelakaan jalan raya tersebut, salah satunya adalah populasi kendaraan dan penduduk yang terus meningkat setiap tahun. "Data Departemen Perindustrian, populasi sepeda motor yang terjual di Indonesia mencapai 5,1 juta unit per tahun, sehingga saat ini jumlah sepeda motor di Indonesia telah mencapai 35 juta unit. Teknologi yang terus berkembang, ikut memicu kecelakaan. Karena, kalau dulu sepeda motor hanya bisa lari 35 km/jam, sekarang sudah bisa 100 km/jam," paparnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Kalla menegaskan, solusi yang dibutuhkan untuk menekan jumlah kecelakaan jalan raya adalah harmonisasi dari semua pihak. "Aturan-aturannya harus diperbaiki. Termasuk disiplin, prilaku dan penegakkan hukumnya, juga harus ikut diperbaiki. Semua harus ikut berperan dan bertanggung jawab, karena ini menjadi tanggung jawab semua untuk menyelamatkan jiwa manusia," ujarnya. Kalla berjanji, pemerintah juga akan menambah sarana dan pra sarana jalan untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal dalam sambutannya menyebutkan, dari 30 ribu korban tewas tersebut, kerugian ekonomi yang timbul mencapai hingga Rp 41 triliun per tahun. Dipaparkan, korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas ini, kata Jusman, kebanyakan tenaga kerja usia produktif. Sebanyak 62,5 persen di antaranya memberikan dampak menurunnya kesejahteraan rakyat. "Dan, sebanyak 20 persen dampak penurunan tingkat kesejahteraan terjadi kepada korban yang mengalami luka berat," kata Jusman.

Ketua pelaksana Pekan Keselamatan Nasional Giri Suseno, yang juga ketua Global Road Safety Partnership Indonesia (GRSPI), memaparkan bahwa Pekan Keselamatan Nasional ini akan digelar serentak di seluruh wilayah Indonesia. Penyelenggaranya bisa berupa instansi maupun kelompok masyarakat. "Sampai akhir tahun 2008 ini, kegiatan tersebut tetap dilaksanakan dengan nama instansi maupun kelompok masyarakat tersebut, tetapi intinya tetap berada dalam koridor keselamatan transportasi jalan," ujar Giri.

Di Jakarta, ungkapnya, kegiatan yang digelar meliputi safety riding course, defensive driving councelling and clinic, pemasangan spanduk-spanduk, slogan-slogan, pembagian stiker tentang keselamatan jalan, hingga pemeriksaan gratis kendaraan terhadap perlengkapan keselamatan pada mobil dan sepeda motor di bengkel-bengkel tertentu. "Sedangkan di daerah-daerah, provinsi, kabupaten/kota, kegiatan ini dipelopori Kepolisian RI bersama Pemda melalui Dinas Perhubungan/DLLAJ. Salah satunya adalah penyiapan zona aman sekolah," lanjut Giri.

Dia menegaskan, berdasarkan pelbagai pengalaman, ketertiban serta disiplin lalu lintas perlu ditanamkan sejak usia dini. "Alangkah bagusnya jika ketertiban serta disiplin lalu lintas ini dapat diajarkan sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Kiranya, pemerintah daerah dapat menghidupkan kembali kawasan tertib lalu lintas di wilayahnya masing-masing," kata Giri.

Dalam acara tersebut, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyerahkan sepasang helm berstandar SNI kepada Wapres Jusuf Kalla dan Ny. Mufidah Jusuf Kalla. Penyerahan helm tersebut menjadi bagian dari penyerahan 3000 helm anak-anak dan dewasa gratis simbolis kepada masyarakat dan pegawai golongan I dan golongan II dari sejumlah departemen dan instansi. (DIP)