Badan Penelitian dan Pengembangan

TUJUH ISU STRATEGIS BIDANG MULTIMODA

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Selasa, 15 April 2014
Jumlah Dilihat: 2549 kali

(Jakarta,15/4/2014), Rencana Strategis (Renstra) Transportasi Nasional ke depan adalah terwujudnya layanan transportasi multimoda. Transportasi multimoda berperan sebagai penggerak utama angkutan barang di Indonesia sehingga mampu meningkatkan daya saing produk nasional baik di pasar domestik, regional maupun internasional. Dengan transportasi multimoda, pergerakan barang dapat lebih efisien sehingga dapat menjamin ketersediaan barang dengan harga yang terjangkau dan stabil serta rendahnya disparitas harga antar wilayah di Indonesia. Multimoda juga menjadi penghela (driver) seluruh kegiatan logistik.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Leon Muhammad, ketika memberi paparan dalam Rountable Discussion bertema " Issue Strategis Bidang Transportasi Multimoda Sebagai Bahan Perumusan Renstra Puslitbang Manajemen Transportasi Multimoda " di Ruang Utama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenhub, Jakarta, Selasa.

Leon mengatakan, dalam mewujudkan layanan transportasi multimoda terdapat tujuh isu yang menjadi perhatian pemerintah yaitu pertama, standarisasi sarana dan prasarana guna terwujudnya single seamless services (terus menerus) melalui keterpaduan jaraingan pelayanan angkutan penumpang dan keterpaduan jaringan prasarana. Kedua, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang angkutan multimoda dan logistik melalui sistem pendidikan dan pelatihan profesi logistik nasional berstandar internasional. Untuk mencapai hal itu dilakukan langkah - langkah percepatan perijinan pendirian Akademi Komunitas Logistik di Bitung (Sulut) dan Kabupaten Batubara (Sumut) serta pendirian program studi logistik di perguruan tinggi.

" Selain itu juga dilakukan pemetaan kompetensi keahlian dan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI di bidang logistik serta adanya penjenjangan profesi logistik dan pendirian lembaga pendidikan logistik melalui jalur akademik, jalur vokasi maupun jalur profesi," papar Leon.

Ketiga, terwujudnya pelayanan tiket terpadu atau dokumen tunggal dengan memanfaatkan teknologi informasi. Keempat, pembangunan sistem otomasi dan informasi logistik nasional yang terintegrasi secara elektronik (Inalog), yaitu revitalisasi sistem Inaportnet (goods vessels), pilar program Indonesia National Single Windows (INSW) di samping System Tradenet oleh Otoritas Pelabuhan di Tanjung Priok dan Tanjung Perak untuk pemetaan flows of goods melalui automasi domestic manifest. Kelima, penyelenggaraan Badan Usaha Angkutan Multimoda (BUAM). Keenam terwujudnya angkutan antarmoda / multimoda pada kawasan - kawasan ekonomi di Indonesia, dan ketujuh adalah integrasi sistem logistik ASEAN dan AFAMT.

Integrasi sistem logistik ASEAN dan AFAMT menyiratkan adanya liberalisasi di bidang jasa angkutan multimoda di kawasan ASEAN dan menuju liberalisasi jasa pada tataran global. Karena itu, setiap negara anggota ASEAN disyaratkan untuk membentuk competent national body, yaitu sebuah badan yang berwenang untuk memberikan sertifikat registrasi bagi operator transportasi multimoda yang akan beroperasi di kawasan negara - negara ASEAN. (SNO).