Direktorat Jenderal Perkeretaapian

CONTAINED IN NRMP, THE HIGH SPEED TRAIN TO BE BUILT IN 2020

Biro Komunikasi dan Informasi Publik - Rabu, 22 Pebruari 2012
Jumlah Dilihat: 3438 kali

(Jakarta, 22/02/2012) Pembangunan kereta api super cepat Jakarta-Surabaya ternyata sudah masuk dalam Rencana Induk Perkeretapian Nasional (Ripnas). Pembangunan sarana dan prasarananya rencananya akan dimulai pada tahun 2020 dengan masa pengerjaan sekitar 7 tahun.

Sebagai langkah awal, pada April 2012 mendatang Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan akan menyelenggarakan Railway Talk di Negara Sakura yang dikoordinir oleh Atase Perhubungan di Jepang, untuk menggalang pemikiran-pemikiran guna persiapan pembangunan kereta api super cepat ini.

Dalam pertemuan nanti akan dihadiri oleh sejumlah lembaga-lembaga swasta dan pemerintah Jepang calon pemberi pinjaman, operator kereta api cepat,  pabrikan pembuat kereta api cepat, perusahaan komponen pemasok pembuat kereta api cepat, maupun perusahaan yang merancang sistem kereta api cepat. Termasuk di dalamnya perusahaan yang merancang sarana, prasarana serta infrastuktur kereta api cepat di Jepang. 

‘’Tujuannya untuk menggalang pemikiran-pemikiran mereka, serta untuk mendapatkan masukan-masukan yang komprehensif. Kita akan dibantu oleh Atase Perhubungan di Jepang,’’ kata Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Nugroho Indiro kepada www.dephub.go.id di ruangan kerjanya, Rabu (22/2).

Dijelaskan oleh Nugroho, gagasan pengembangan kereta api cepat Jakarta-Surabaya telah ada sejak tahun 1980, karena transportasi kereta api memiliki prospek yang baik terutama dalam angkutan penumpang. Pembangunan kereta api cepat ini akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan sistem transportasi, mengurangi beban jalan raya, penghematan energi, pengurangan polusi dan masyarakat mempunyai pilihan dalam menggunakan moda transportasi.

Study Master Plan & feasibility Study for High Speed Train on Jawa Nort Line, jelas Nugroho sebenarnya sudah di lakukan pada tahun 1987. Lembaga dari Perancis juga sudah melakukan studi pada tahun 1990 dan tahun 2008 lembaga dari Jepang juga sudah melakukan studinya. ‘’Jadi sebenarnya studi dan kajian-kajian pembangunan kereta api super cepat ini sudah sejak lama di lakukan,’’ jelas Nugroho.


Ditjen Perkeretaapian sudah mengajukan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk membiayai studi-studi lanjutan dibiayai dengan dana yang bersumber dari hibah. Menurut Nugroho sudah ada beberapa negara yang sudah menyatakan kesediaannya untuk memberikan dana hibah untuk studi pembangunan kereta api cepat ini, seperti Spanyol dan Jepang.

Sesuai dengan judul study yaitu Jawa Nort Line, maka pembangunan kereta api super cepat ini akan dilakukan di wilayah utara Jawa, dengan rute Jakarta-Cirebon-Tegal-Semarang-Bojonegoro-Surabaya. Tapi ada juga pemikiran dari Jakarta melalui Bandung baru ke Cirebon dan seterusnya.

Pembangunannya nanti akan dilakukan dalam beberapa tahap disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna jasa. Misalnya Jakarta-Semarang dulu. Jika permintaannya cukup bagus bisa dilanjutkan lintas dengan mengerjalan Semarang-Surabaya. Karena transportasi ini memang sebagai penyeimbang transportasi udara.

Pembangunan jalur juga harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi kereta yang akan digunakan. Pada saat studi awal, memang kecepatan kereta api yang digunakan hanya 200 km/jam. Karena pada saat itu kereta itulah yang paling cepat.

Pada tahun 2010 lalu, kecepatan rata-rata kereta api cepat di dunia sudah 250 km/jam. Nah pada saat pembangunan dilakukan yaitu tahun 2020, kecepatan kereta api generasi terkini pasti sudah lebih cepat, yaitu bisa melaju dengan kecepatan sekitar 300km/jam.

Dengan kecepatan maksimal 300 km/jam dan akan menurunkan kecepatannya pada posisi berbelok, maka untuk melayani rute Jakarta-Surabaya sepanjang 685 km, akan dapat ditempuh dengan waktu 2 jam 53 menit. (PR)