Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V Kalianget

Profil


Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Pekalongan sebagai salah satu Satuan Kerja dan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan yang berlokasi di Kota Pekalongan dari sisi cakupan wilayah kerja sangat strategis. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan KM. No. 62 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Penyelenggara Pelabuhan Pekalongan bahwa Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Pekalongan mempunyai 2 (dua) wilayah kerja yaitu Wilayah Kerja Pelabuhan Pemalang dan Wilayah Kerja Pelabuhan Wiradesa. Dalam hal Wilayah Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Pekalongan secara geografis berada di 3 (tiga) Kabupaten/Kota yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten pekalongan dan Kabupaten Pemalang.

Kota Pekalongan terletak antara 6°50’ 42” - 6°55’ 44” Lintang Selatan dan 109° 37’ 55” -109° 42’ 19” Bujur Timur, dan memiliki luas wilayah 44,96 KM², wilayah ini terbagi atas 4 (empat) Kecamatan. Adapun Perbatasan wilayah ini adalah:

    -Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa;

    -Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Batang;

    -Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang;

    -Di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.

Keadaan tanah di Kota Pekalongan berwarna agak kelabu dengan jenis tanah Aluvial kelabu kuning dan Aluvial yohidromorf. Jarak antar kota Pekalongan dengan berapa ibu kota adalah: Semarang 101 KM, Jakarta 384 KM, Bandung 266KM, Surabaya 488 KM, Yogyakarta 219 KM, Kajen 28 KM, Batang 8 KM, Pemalang 35 KM, Tegal65 KM, Slawi 80 KM, Bebes 78 KM.

Komoditi unggulan Kota Pekalongan yaitu industri batik,perikanan dan jasa. Disamping itu sektor pertanian dan peternakan sebagai komoditi penunjang.Sub sektor jasa komoditi yang diunggulkan berupa wisata alam pantai Pasir kencana, Pantai Slamaran, konservasi mangrove dan Wisata Baharidi pesisir utara Kota Pekalongan dan wisata budaya berupa kampoeng batik, Pasar Grosir Setono. Melihat kondisi geografis dan memiliki garis pantai Laut Jawa, Kota Pekalongan juga memiliki potensi pada sektor industri maritim berupa industri perdockingan dan galangan kapal sebagai sarana dan prasarana transportasi laut, Untuk itu Pelabuhan Pekalongan dapat dikembangkan sebagai Pelabuhan Umum.

Pelabuhan Pekalongan dibangun tahun 1952, dan diresmikan tahun 1859, merupakan bagian dari kebijakan colonial. Kemudian tahun 1873 pelabuhan ini ditetapkan sebagai pelabuhan impor terbatas. Tahun 1882 berstatus ekspor-impor. Pada awal abad 20 bersatatus sebagai pelabuhan menengah, dan kemudian tahun 1924 sebagai pelabuhan kecil. Sebelum ditetapkan sebagai pelabuhan khusus perikanan tahun 1974, pelabuhan Pekalongan digunakan oleh perahu tongkang. Perkembangannya terus berlangsung sejalan dengan ditetapkannya sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan sejak tahun 1978. Meskipun perairan laut Jawa amempunyai kekayaan ikan yang luar biasa, namun sampai tahun 1960an, konsumsi ikan penduduknya dicukupi dengan mendatangkan ikan dari daerah lain dan impot. Ironis tersbut terkait dengan kebijakan impor ikan, monopoli garam, dan perlakuan terhadap pachter pelabuhan> Perubahan mendasar sector perikanan mulai berlangsung sejak ditetapkannya politik berdikari dan penghapusan monopoli garam. Sejak itu usaha penangkapan di pantai utara Jawa memberi keuntungan. Maka terjadi eksodus nelayan Cina dari Bagansiapi-api ke Jawa. Pekalongan mempu menangkap perubahan besar sector perikanan tersebut, Beberapa factor yang memungkinkan berkembangnya perikanan di Pelabuhan Pekalongan diantaranya, di tempat tersebut sudah lama berlangsung kegiatan perikanan, eksodan nelayan asal Bagansiapi-api diterima oleh nelayan dan penguasa setempat, bahkan usaha penagkapan yang sangat menguntungkan tersebut segera diikuti oleh para pengusaha tenun yang sedang terdesak oleh mekanisasi oleh PMA. Nelayan Pekalongan juga berhasil mengembangkan mini purse seine, sehingga pada waktu dihapusnya trawl, dengan segera purse seine mampu menggaantikan trawl. Hanya saja jalur pemasaran yang semula berupa ikan kering dan ikan asin dikuasai oleh pemegang monopoli garam, dan kemudian ketika ikan dipasarkan dalam bentuk igan segar beku, kendali dipegang oleh pemilik pabrik es, yang keduaduannya dari etnis Cina.

Kabupaten Pekalongan yang berada di daerah Pantai Utara bagian barat sepanjang pantai utara Laut Jawa memanjang ke selatan.Dengan Kota Kajen sebagai Ibu Kota pusat pemerintahan.Secara geografis terletak diantara: 6°- 7° 23’ Lintang Selatan dan antara 109°- 109° 78’ Bujur Timur yang berbatasan dengan:

Sebelah Timur: Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang
Sebelah Utara : Laut Jawa, Kota Pekalongan
Sebelah Selatan : Kabupaten Banjarnegara
Sebelah Barat : Kabupaten Pemalang

Wilayah Kabupaten Pekalongan memiliki luas ± 836,13 Km2, Terdiri atas 19 Kecamatan dan 285 desa/kelurahan. Dari 285 desa/kelurahan yang ada, 6 desa merupakan desa pantai dan 279 desa bukan desa pantai. Menurut topografi desa, terdapat 60 desa/kelurahan (persen) yang berada di dataran tinggi dan selebihnya 225 desa/kelurahan (80 persen) berada di dataran rendah.

Menurut penggunaannya tanah dibagi menjadi tanah sawah dan tanah kering. Tahun 2013 luas tanah sawah sebesar 24.871,51 ha (29,75 persen) dan luas tanah kering sebesar 58.741,56 ha (70,25 persen). Sebagian besar luas tanah sawah merupakan sawah beririgasi 19.930,67 ha (80,13 persen) selanjutnya sawah tadah hujan sebesar 4.286,54 ha (17,24 persen), tanah sawah pasang surut sebesar 393,11 ha (1,58 persen), Lebak 261,18 ha (1,05 persen).

Secara Topografis, Kabupaten Pekalongan merupakan perpaduan antara wilayah datar diwilayah bagian utara dan sebagian merupakan wilayah dataran tinggi/pegunungan diwilayah bagian selatan yaitu diantaranya Kecamatan Petungkriyono dengan ketinggian 1.294 meter diatas permukaan laut dan merupakan wilayah perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kecamatan Lebakbarang, Paninggaran, Kandangserang, Talun, Doro, dan sebagian diwilayah Kecamatan Karanganyar serta Kajen.

Potensi WilayahKabupaten Pekalongan memiliki beberapa Potensi unggulan daerah yang diharapkan memiliki daya saing dan keunikan tertentu, yang bisa membedakan dengandaerah lain. Potensi terhadap produk unggulan daerah diandalkan melalui sektor pertanian, perkebunan, perikanan, industri dan pariwisata.Khususnya potensi industri di Kabupaten Pekalongan sampai dengan saat ini masih didominasi oleh industri tekstil utamanya, industri batik, industri pertenunan dan produk tekstil dan didukung oleh produk pertanian, perikanan yang terwujud dalam produk pengolahan pangan dan agribisnis.

Melihat beragam hasil produksi di wilayah Kabupaten Pekalongan dan keberadaannya di Pantai Utara Laut Jawa, kabupaten Pekalongan perlu menggali potensidan mengembangkan sektor transpotasi laut, hal ini sangat diperlukan karena Laut merupakan sarana yang sangat strategis dalam distrisbusi arus barang. Pengembangan Pelabuhan sudah seharusnya diprioritaskan dan diagendakan dalam rencana pembangunan daerah dan Pusat, karena pelabuhan merupakan salah satu sarana penunjang perekonomian didaerah dan Penyangga Perekonomian Nasional.

Wilayah Kerja Pelabuhan Wiradesa sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No.KP.414 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) bahwa Pelabuhan Wiradesa di Kabupaten Pekalongan telah ditetapkan sebagai Pelabuhan Pengumpan Lokal yaitu berperan sebagai pengumpan terhadap Pelabuhan Utama, Pelabuhan Pengumpul dan atau Pelabuhan Pengumpan Regional. Sehingga Pelabuhan Pengumpan Lokal dapat digunakan sebagai tempat pelayanan moda transportasi laut untuk mendukung kehidupan masyarakat kabupaten Pekalongan dan berfungsi sebagai tempat multifungsi selain sebagai terminal untuk penumpang juga untuk melayani bongkar muat kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya.

Kabupaten Pemalang merupakan daerah strategis dengan luas wilayah sebesar 111.530 Ha, sebagian besar wilayah merupakan tanah kering seluas 72.836 Ha (65,30%) dan lainnya tanah persawahan seluas 38.694 Ha (34,7%).

Wilayah Kerja Pelabuhan Pemalang termasuk dalam wilayah administratif Kelurahan Sugihwaras, Kecamatan Pemalang dengan batas wilayah antara lain :

a. Sebelah Utara : Laut Jawa

b. Sebelah Selatan : Kelurahan Pelutan

c. Sebelah Barat : Desa Lawangrejo

d. Sebelah Timur : Kelurahan Widuri

Kelurahan Sugihwaras memiliki letak yang sangat strategis karena hanya berjarak 3 km dari ibukota Kabupaten Pemalang dan 117 km dari ibukota Provinsi Jawa Tengah. Wilayah ini juga dilalui jalan arteri nasional yang menghubungkan kota-kota besar di bagian utara Pulau Jawa.

Kelurahan Sugihwaras terbagi dalam 16 Rukun Warga (RW) dengan jumlah Rukun Tetangga (RT) sebanyak 48 RT. Jumlah penduduk Kelurahan Sugihwaras adalah sebesar 16.492 jiwa pada tahun 2014 yang terdiri dari penduduk laki-laki sebesar 8.503 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 7.989. Dari jumlah penduduk ini tercatat 2.891 jiwa atau 17,53% dikategorikan miskin.

Sebagai wilayah yang terletak di kawasan pesisir, potensi ekonomi wilayah ini sangat mengandalkan hasil laut sebagai mata pencaharian penduduknya. Tercatat sebanyak 2.168 orang yang berprofesi sebagai nelayan 27,17% dari jumlah penduduk yang bekerja. Jenis dan jumlah mata pencaharian penduduk Kelurahan Sugihwaras, selengkapnya dapat di lihat pada tabel berikut ini.